Jumat, 16 September 2016

Andalusia jatuh

_*MENENGOK SEJARAH HANCURNYA ANDALUSIA*_
Pelajaran penting bagi generasi muda Indonesia:

*AL QUR'AN :*Bermuatan:
MELARANG...................
MEMVONIS....................
MENGANCAM................

*Pemimpin muslim terakhir di Andalusia (Spanyol), Abdillah Muhammad bin Al Ahmar, keluar dari istana kerajaan dengan hina.*

*Malam itu, Andalusia telah jatuh ke tangan kerajaan katolik setelah berada di bawah kekuasaan Islam selama lebih dari 800 tahun!!*

Kini, *ia tinggalkan istana dengan hati pilu, dadanya sesak.*

Hingga sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi.

Dari sana ia menatap *Istana Al Hambra*,  *Ia menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah kuyup dengan air mata*.

Melihat hal itu, ibu nya berkata,
Menangislah!
Menangislah seperti perempuan!, karena *kau tidak mampu menjaga kerajaanmu sebagaimana laki-laki perkasa!!*.

*Kekuasaan Islam berakhir di Andalusia...*

Dan *belum pernah bangkit lagi hingga detik ini!!*.

*Umat Islam disana diberi pilihan :*
1) *Masuk kristen*, atau,
2) *Dibunuh*, atau
3) *Diusir*.

*Tahu apa penyebab jatuhnya Andalusia!?*
Karena:
1. *Cinta dunia*.
2. *Meninggalkan jihad*,
3. *Berkubang kemaksiatan*,
4. *Menyerahkan urusan bukan pada ahlinya*,
5. *Bodoh dalam hal agama*.

*Bayangkan jika Indonesia nanti telah jatuh total ke tangan orang kafir*........

*pemuda Islam menangis* dan *ibu2 mereka berkata, Menangislah seperti perempuan menangis*,

Karena *kau tidak bisa menjaga bangsa ini sebagaimana seorang laki2 perkasa!!!*,

Maka *bersiaplah wahai pemuda Islam*......

*Pelajari baik-baik 5 faktor di atas*, Karena *sebab-sebab kejatuhan itu akan selalu sama*.....

*MENGINGATKAN BUAT SAUDARA2 MUSLIM DAN MUSLIMAH*!!!

1. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*Menjadikan orang Kafir Sebagai PEMIMPIN*
QS.Ali Imraan: 28,
QS.An-Nisaa’: 144,
QS.Al-Maa-idah: 57.

2. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*Menjadikan orang Kafir Sebagai PEMIMPIN Walau KERABAT Sendiri*.
QS.At-Taubah: 23,
QS.Al-Mujaadilah: 22,

3. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*Menjadikan orang Kafir Sebagai TEMAN SETIA*.
QS.Ali Imraan: 118,
QS.At-Taubah: 16.

4. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*SALING TOLONG dengan kafir yang akan MERUGIKAN umat islam*.
QS.Al-Qasshash: 86,
QS.Al-Mumtahanah: 13.

5. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*MENTAATI orang kafir untuk MENGUASAI Muslim*
QS.Ali Imraan: 149–150.

6. *Al-Qur’an*
*M E L A R A N G*
*Memberi PELUANG kepada orang kafir sehingga MENGUASAI Muslim*.
QS.An-Nisaa’: 141.

7. *Al-Qur’an*
*MEMVONIS MUNAFIQ*
*Kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin*.
QS.An-Nisaa’: 138–139.

8. *Al-Qur’an*
*MEMVONIS ZALIM*
*Kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin*.
QS.Al-Maa-idah: 51.

9. *Al-Qur’an*
*MEMVONIS FASIQ*
*Kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin*.
QS.Al-Maa-idah: 80–81.

10. *Al-Qur’an MEMVONIS SESAT, kepada muslim yg menjadikan kafir sebagai pemimpin*.
QS.Al-Mumtahanah: 1.

11. *Al-Qur’an MENGANCAM AZAB, Bagi yang menjadikan Kafir cebagai Pemimpin / Teman setia*.
QS.Al-Mujaadilah: 14–15.

12. *Al-Qur’an* *MENGAJARKAN DOA*
*Agar Muslim Tidak Menjadi SASARAN FITNAH kaum Kafir*
QS.Al-Mumtahanah: 5.

*Ya Allah, Ya Robb, Ya Tuhan kami, sungguh telah kami sampaikan FirmanMu, Kami memohon ampun serta Berlindung hanya kepadaMu Ya Robbal Aalamiin*.

*Bagi muslim semua sudah jelas aturannya sehingga urusannya tinggal ke islaman kita lah yg diuji, apakah kita termasuk orang sesat, munafik, fasiq, zalim atau kafir*

Sholat kejam mata

Bismillahirrahmanihim, Mengapa Rasulullah melarang kita Pejamkan mata ketika shalat ? Laa tudrikuhul absyar wa huwa yudrikul Abshar, wa huwa lathiful khabir. Allah tidak bisa dilihat oleh mata dan Allah yang melihat dirimu, Allah Maha halus lagi maha memberikan khabar. Alasan inilah kita dilarang memejamkan mata dalam shalat, karena Allah sangat lembut dan halus namun Allah dapat menurunkan keberadaan dan sambutannya ke dalam hati manusia. Dan Dialah Allah yang menurunkan ketenangan kedalam hati orang yang beriman untuk menambahkan keadaan iman dari iman yang sebelumnya. Orang yang memajamkan mata ketika shalat menunjukkan Ia tidak mampu merasakan turunnya keimanan dalam hatinya. Mengapa? Karena tidak mungkin keimanan akan lenyap hanya karena mata terbuka. Sebagaimana tidak mungkinnya perasaan cinta kepada seorang dicinta bisa hilang ketika mata terbuka. Orang hindu dan budha dalam melakukan jalan spiritualnya dengan cara menutup matanya untuk mencapai moksa atau pelepasan ruhaninya. Namun Islam mengcounter cara ini dengan mengatakan bahwa Allah sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat nadi, hanya saja Allah tidak bisa dilihat oleh mata akan tetapi Allah yang melihat diri kita dan Allah sangat lembut dan halus serta memberikan khabar kedalam hati kita. Keadaan ini hanya bisa dirasakan bukan dilihat oleh mata, seperti rasa cinta, rasa sedih, rasa bahagia, walakinnallaha habbaba ilaikumul iman wazayyanahu fi qulubikum wa karraha ilaikum kufra wal fusuq wal isy yan. Akan tetapi Allahlah yang menurunkan rasa iman  dan menghiasinya rasa cinta ke dalam hatimu, dan Allah menjadikan dirimu membenci perbuatan kufuran, fasik dan isy yan. Keadaan ini terasa nempel di dalam dada sehingga menjadi keadaan diri kita. Jika keadaan rasa ini ada dalam dada kita, maka kita tidak akan mampu melepaskan. Jika hati kita ada rasa cinta dan khusyu' kepada Allah maka  kita akan merasakan sambutan Allah ketika diturunkan rasa tenang. Ketikda ada rasa tenang dalam dada itulah maka kabar dari Allah dapat kita tangkap. Keadaan ini tidak mungkin bisa dirasakan oleh orang yang memejamkan mata dalam shalat.

Kamis, 15 September 2016

Wudhu bersih jiwa raga

*_PEMBERSIHAN JIWA DAN RAGA DALAM  PROSESI BERWUDHU'_*

_Wudhu' merupakan syarat sah dan kesempurnaan shalat._

_"Barangsiapa berwudhu' lalu di baguskan wudhu'nya dan di kerjakan shalat dua rakaat, di mana ia tidak berbicara dengan dirinya dalam berwudhu' dan shalat itu sesuatu hal duniawi, niscaya keluarlah dia dari segala dosanya seperti hari ia di lahirkan oleh ibunya". (HR. Bukhari Muslim dari Usman bin Affan)._

_Dalam Buku "Pelatihan Shalat Khusyu' " Ustadz Abu Sangkan Menjelaskan :_

_Wudhu' sering tidak mendapat perhatian serius dalam peribadatan kita. Maklum, syariat wudhu' sangat sederhana dan mudah dilakukan._

_Sekedar membasuh muka, tangan, telinga, mengusap rambut, clan membasuh kaki._

_Apalagi keadaan yang dibasuh seringkali sudah bersih dari najis, sehingga tidaklah terlalu repot membasuh sernua bagian tubuh ini._

_Padahal, wudhu' adalah ibadah dzikir yang rnerupakan sarana pembersihan jiwa, yang dimulai dari sisi paling luar (fisik) sampai ke dalarn ruhaninya._

_Kesernpurnaan shalat sangat tergantung kepada kesernpurnaan wudhu'-nya, sebab shalat seseorang tidak akan sah jika, wudhu'-nya sendiri tidak sah._

_Shalat tidak akan sernpurna jika. wudhu'nya tidak sernpurna. jika wudhu'-nya tidak dalam keadaan ingat kepada Allah (lalai), maka wudhu'nya tidak memberikan dampak apa-apa kepada jiwa kecuali hanya tubuhnya basah terkena air._

_Barang siapa mengingat Allah (dzikrullah) ketika wudhu', niscaya disucikan oleh Allah tubuhnya secara keseluruhan._

_Dan barang siapa tiada mengingat Allah (dzikrullah) niscaya tiada disucikan oleh Allah dari tubuhnya selain yang kena air saja."(HR. Abdul Razaq Fifjam ishaghir)._

_"Sabda Rasulullah SAW yang lain: Barang siapa memelihara baik-baik lima shalat fardfu dengan menyempurnakan wudhu'-nya dan menjaga waktu -waktunya, maka hal itu akan menjadi nur (cahaya) dan burhan (hujjah, bukti) baginya pada hari kiamat._

_Dan barang siapa yang melalaikannya akan dikumpulkan kelak bersama fir'aun dan Hammann."(Dirawikan Ahmad, ibm Hibban, Thabrani dan Al-Baihaqi)._

_Ketika berwudhu', seyogyanya kita melakukannya sebagai bentuk peribadatan seperti halnya melakukan shalat, karena wudhu' merupakan prosesi pembersihan jiwa yang dituntun oleh Rasulullah SAW._

_Cara ini ditempuh (disyariatkan) dalam rangka mempersiapkan diri menghadap Allah Yang Maha Suci._

_Hadits lain yang berkaitan dengan wudhu' adalah sebagai berikut:_

_"Barang siapa berwudhu' lalu dibaguskan wudhu'-nya dan dikerjakan shalat dua raka'at,di mana ia tidak berbicara dengan dirinya dalam berwudhu dan shalat itu sesuatu hal duniawi, niscaya keluarlah dia dari segala dosanya, seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya." (HR. Bukhari dan Muslim dari Utsman bin Affan)._

_Wudhu' merupakan prosesi ibadah yang dipersiapkan untuk membersihkan jiwa agar mampu melakukan kesambungan komunikasi dengan Allah Yang Maha Suci._

_Dan akan mendatangkan aora (sinar) yang memancar dari keheningan hatinya._

_Selanjutnya, mari kita mencoba memasuki proses wudhu' sebagai ajang pembersihan jiwa, agar kita mendapatkan Nur dari wudhu' yang akan membekas ketika memasuki ibadah shalat._

_Mulailah dengan mengucapkan:_

_"Bismillahirrahmanirrahim ". Hubungkan jiwa Anda kepada Allah... rasakan bahwa Anda sedang melakukan proses pembersihan tubuh dan jiwa._

_Cucilah kedua tangan dengan air mutlak. Pastikan hati tetap tersambung kepada Allah sampai muncul getaran rasa tenang dan sejuk di dada._

_Bersihkan mulut sebagai bagian proses pembersihan jiwa dengan berkumur-kumur._

_Bersihkan kedua lubang hidung. Hayati dengan perasaan dan dilakukan secara perlahan-lahan, tidak terburuburu, sebab hal ini akan menutup rasa sambung / ingat kepada Allah._

_Hadirkan jiwa Anda kepada Allah, bahwa Anda sedang melakukan pembersihan jiwa._

_Kehadiran jiwa ini akan membuat rasa menjadi sangat hening dan peka serta getaran kesambungan semakin kuat / khusyu'._

_Basuhlah muka Anda dengan air perlahan sekali sambil dirasakan... Ulangi tiga kali._

_Selanjutnya basuhlah kedua lengan sampai siku, mengusap rambut kepala, mengusap daun telinga, dan kedua kaki ...._

_Semua dilakukan dengan tidak terburu-buru._

_Lakukan hal ini dengan tetap tersambung kepada Allah sehingga getaran kekhusyu'an dalam wudhu' itu akan terus terbawa sampai kita melakukan shalat._

_Sempurnakan dan diamlah sejenak lalu berdoalah._

_Seyogyanya kita berwudhu' sebagai bentuk peribadatan seperti halnya melakukan shalat, karena wudhu' adalah merupakan prosesi pembersihan jiwa._

_*Ust. Abu Sangkan, ditulis kembali oleh Ahmad Nayar.*_

🙏🙏🙏

Hikmah larangan pejam mata

Hikmah larangan shalat memejamkan mata ; Rasulullah melarang kita memejamkan mata ketika shalat. Hal ini untuk membedakan mana khusyu' yang berasal dari pikiran dan mana khusyu' yang berasal dari hati. Kalau dari khusyu' dari pikiran terasaa lebih fokus namun begitu membuka mata, khusyu'nya langsung hilang. Akan tetapi jika khusyu'nya berasal dari hati maka suasana hati akan tetap nempel sampai selesai shalat, walaupun sampai terbuka mata. Rasa khusyu' itu bukan timbul dari pikiran dan perasaan, akan tetapi berasal dari pemahaman makna Allah melihatmu disaat berdiri shalat dan Allah melihatmu disaat menuju sujudmu, kemudian ayat ini menukik kedalam menuju bahwa Allah tidak dapat ditempuh dengan mata akan tetapi Allah yang melihat dirimu dan Allah Maha lembut serta mengirimkan khabar dalam hati manusia. Wa huwa latiful khabir. i

Hukum memejamkan mata

Bismillahirrohmanirrohim,

*_Hukum Memejamkan mata didalam Shalat_*:

Berdasarkan hadits-hadits berikut :

1. Imam Al-Bukhari rahimahullah Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

:رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ وَهُوَ يُصَلِّي بَيْنَ يَدَيْ النَّاسِ“

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat masjid sedang beliau dalam keadaan shalat di hadapan manusia.
(Shahih al-Bukhari 1/151 no.753)

2. Dan imam Al-Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

:قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ الْآنَ مُنْذُ صَلَّيْتُ لَكُمْ الصَّلَاةَ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ مُمَثَّلَتَيْنِ فِي قِبْلَةِ هَذَا الْجِدَار

“Sungguh aku telah melihat sekarang  seja kaku meng-imami kalian, surga dan neraka digambarkan di kiblat tembok ini..”
(Shahih al-Bukhari 1/150 no.749)

3. Hadits dari sahabat Ibnu Abbas RA, bahwa Rosulullah SAW bersabda :

,إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاةِ فَلا يَغْمِضْ عَيْنَيْهِ”

Apabila kalian melakukan shalat makan janganlah memejamkan kedua mata kalian.”(HR. at-Thabrani (w. 360 H)
dalam Mu’jam as-Shagir no. 24. dari jalur Mus’ab bin Said, dari Musa bin A’yun, dari Laits bin Abi Salim.

*Para ulama menegaskan, memejamkan mata ketika shalat hukumnya makruh*.

*_Kecuali_* ketika hal ini dibutuhkan, karena pemandangan di sekitarnya sangat mengganggu konsentrasi shalatnya.

Mengenai alasan dihukumi makruh, ada beberapa keterangan dari para ulama, diantaranya pendapat :

1. Ibnul Qoyim (w. 751 H) bahwa Memejamkan mata ketika shalat, bukan termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Beliau mengatakan :

ولم يكن من هديه صلى الله عليه و سلم تغميض عينيه في الصلاة”

Bukan termasuk sunah Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, memejamkan mata ketika shalat.” (Zadul Ma’ad, 1/283)b.

2. Imam Hambali, Memejamkan mata ketika shalat, termasuk kebiasaan *_shalat orang yahudi_*.

Dalam ar-Raudhul Murbi’ ;  kitab fikih madzhab hambali : pada penjelasan hal-hal yang makruh ketika shalat, dinyatakan,

ويكره أيضا تغميض عينيه لأنه فعل اليهود

”Makruh memejamkan mata ketika shalat, karena ini termasuk perbuatan orang yahudi.” (ar-Raudhul Murbi’, 1/95).

3. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah serta ulama-ulama Kufah mengatakan bahwa disukai bagi orang yang shalat untuk melihat ke arah tempat *_sujudnya karena itu lebih dekat kepada kekhusyu’an_*.

Sebagaimana _Al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullah mengatakan_ dalam Fathul Bari :

:وَقَالَ ابْنُ بَطَّالٍ : فِيهِ حُجَّةٌ لِمَالِكٍ فِي أَنَّ نَظَرَ الْمُصَلِّي يَكُونُ إِلَى جِهَةِ الْقِبْلَةِ ، وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْكُوفِيُّونَ : يُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَوْضِعِ سُجُودِهِ ؛ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ لِلْخُشُوعِ“

Ibnu Bathal rahimahullah mengatakan :
“Di dalam hadits (di atas) terdapat hujjah bagi imam Malik rahimahullah bahwa pandangan orang yang sedang shalat dihadapkan ke arah kiblat."Dan Imam Asy-Syafi’I rahimahullah serta ulama2 Kufah mengatakan bahwa disukai bagi orang yang shalat tmuntuk melihat ke arah tempat sujudnya karena itu lebih dekat kepada ke-khusyu’an.”
(Fath Al-Bari 2/271)

_Sebagian ulama membolehkan memejamkan mata ketika ada kebutuhan_.

Misalnya, dengan memejamkan mata, dia menjadi tidak terganggu dengan pemandangan di sekitarnya.

*Kesimpulan hukum berdasarkan Hadits diatas*

Ibnul Qoyim mengatakan,

والصواب أن يقال : إن كان تفتيح العينين لا يخل بالخشوع فهو أفضل ، وإن كان يحول بينه وبين الخشوع لما في قبلته من الزخرفة والتزويق أو غيره مما يشوش عليه قلبه ، فهنالك لا يكره التغميض قطعًا ، والقول باستحبابه في هذا الحال أقربُ إلى أصول الشرع ومقاصده من القول بالكراهة

Kesimpulan yang benar, jika membuka mata (ketika shalat) tidak mengganggu kekhusyuan, maka ini yang lebih *_afdhal_* Tetapi jika membuka mata bisa mengganggu kekhusyuan, karena di arah kiblat ada gambar ornamen hiasan, atau pemandangan lainnya yang mengganggu konsentrasi hatinya, maka dalam kondisi ini _tidak makruh memejamkan mata_.

*_Dan pendapat yang menyatakan dianjurkan memejamkan mata karena banyak gangguan sekitar, ini lebih mendekati prinsip ajaran syariat dari pada pendapat yang memakruhkannya_*.
(Zadul Ma’ad, 1/283).

_Walaupun memang kemudian terdapat perbedaan pendapat diantara ulama mengenai arah penglihatan Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam saat shalat, akan tetapi dalam hadits-hadits di atas menunjukkan satu hal yang sama yang disepakati, yaitu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan_ *_membuka kedua mata beliau sebab jika beliau menutup mata beliau, tentu beliau tidak akan dapat melihat dahak yang ada di tembok dan tidak pula dapat melihat gambaran surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau_*

Wallahu A'lam  😭🙏�🙏

Kisah husein bin mundzir

إسلام حصين بن المنذر الخزاعي

_Kisah islamnya Husain Bin Mundzir Alkhuza'i._

روى البيهقي وغيره : أنه لما ظهر النبي صلى الله عليه وسلم بدعوته بين الناس

_Albaihaqi dan yang lainnya meriwayatkan, ketika Rasulullah mendakwahkan agama islam secara terang2an kepada manusia._

حاول كفار قريش أن ينفروا الناس عنده

_Orang kafir quraisy melakukan perlawanan agar semua orang menjauhinya._

فقالوا : ساحر .. كاهن .. مجنون ..

_Mereka mengatakan nabi bahwa dia Penyihir, dukun, dan gila..._

لكنهم وجدوا أن أتباعه يزيدون ولا ينقصون

_Tetapi anehnya mereka mendapati pengikut Nabi justru malah bertambah dan tidak berkurang._

فاجتمع رأيهم على أن يغروه بمال ودنيا

_Maka mereka bersepakat untuk merayu Nabi dengan harta dan dunia._

فأرسلوا إليه حصين بن المنذر الخزاعي

_Maka mereka mengutus Husain Bin Mundzir Alkhuza'i._

وكان من كبارهم

_Dia adalah termasuk salah satu pembesar quraisy saat itu._

فلما دخل عليه حصين

_Ketika Husain Bertemu dengan Nabi._

قال : يا محمد فرقت جماعتنا

_Kemudia dia berkata : Wahai Muhammad engkau telah memecah jamaah kami._

وشتت شملنا .. وفعلت .. وفعلت ..

_Engkau telah banyak berbuat kelompok kami saling membenci._

فإن كنت تريد مالاً جمعنا لك حتى تكون أكثرنا مالاً

_Jika engkau menginginkan harta, kami siap mengumpulkan harta untukmu agar engkau menjadi kaya raya._

وإن أردت نساءً زوجناك أجمل النساء

_Jika engkau menginginkan istri kami siap mengawinkan engkau dengan wanita yg paling cantik._

وإن كنت تريد ملكاً ملكناك علينا

_Jika engkau ingin kedudukan, kami siap menjadikan engkau sebagai pimpinan bagi kami._

ومضى في كلامه وإغرائه

_Dan dia terus berbicara kepada nabi dengan rayuannya._

والنبي صلى الله عليه وسلم ينصت إليه

_Dan Nabi Saw tetap mendiamkannya._

فلما انتهى من كلامه

_Setelah dia selesai bicaranya._

قال له صلى الله عليه وسلم : أفرغت يا أبا عمران

_Rasulullah Saw berkata : Apakah engkau sudah selesai wahai Abu Imran?._

قال : نعم

_Dia menjawab : Iya._

قال : فأجبني عما أسألك

_Kalau begitu jawablah pertanyaanku yg akan kutanyakan kepadamu._

قال : سل عما بدا لك

_Dia berkata : Baiklah bertanyalah tentang apa saja._

قال : يا أبا عمران كم إلهاً تعبد ؟

_Rasulullah berkata : Wahai Abu Imran berapa banyak tuhan yg engkau sembah?_

قال : أعبد سبعة ستة في الأرض وواحداً في السماء !!

_Dia berkata : Aku menyembah tuju tuhan, enam di dunia, dan satu dilangit._

قال : فإذا هلك المال من تدعوا !؟

_Jika hartamu habis, kepada siapa engkau berdoa?._

قال : أدعوا الذي في السماء

_Dia berkata : Aku akan berdoa kepada tuhan yg berada dilangit._

قال : فإذا انقطع القطر من تدعوا ؟

_Jika hujan tidak turun, kepada siapa engkau berdoa?_

قال : أدعوا الذي في السماء

_Dia berkata : Aku akan berdoa kepada tuhan yg berada dilangit._

قال : فإذا جاع العيال من تدعوا ؟

_Jika seluruh keluargamu kelaparan, kepada siapa engkau berdoa?_

قال : أدعوا الذي في السماء 

_Dia berkata : Aku akan berdoa kepada tuhan yg berada dilangit._

قال : فيستجيب لك وحده أم يستجيبون لك كلهم

_Rasulullah berkata : Tuhanmu yg satu itu yg menjawab, atau mereka menjawab semua?_

قال : بل يستجيب وحده

_Dia berkata : Tuhanku yang satu itu._

فقال صلى الله عليه وسلم : يستجيب لك وحده وينعم عليك وحده

_Kemudian Rasulullah Saw, bersabda : Tuhanmu yg satu itu yg menjawab doamu, dan dialah satu2nya yg memberikanmu nikmat._

وتشركهم في الشكر أم أنك تخاف أن يغلبوه عليك

_Tetapi engkau telah syirik kepada tuhanmu yg lain, atau engkau takut bahwa mereka akan membunuhmu?._

قال حصين : لا ما يقدرون عليه

_Husein berkata : Tidak sama sekali, mereka tidak akan bisa berbuat demikian._

فقال صلى الله عليه وسلم : يا حصين أسلم

_Maka berkatalah Rasulullah Saw kepadanya, wahai Husein Masuklah engkau kedalam agama islam._

أعلمك كلمات ينفعك الله بهن

_Aku berjanji akan mengajarimu sebuah doa yg akan membawa manfaat bagi Allah untukmu._

فقيل إنه أسلم فعلمه النبي صلى الله عليه وسلم دعاء يدعو به

_Dikatakan bahwa akhirnya dia Masuk kedalam agama islam kemudian Rasulullah mengajarinya sebuah doa untuknya._

"اللهم الهمني رشدي وقني شر نفسي"

_Doa istimewa itu adalah : "ALLAHUMMA ALHIMNI RUSDI WAQINI SYARRO NAFSI"_

_Ya Raab... Berikanlah ilham petunjuk kepadaku, dan hindarkanlah aku dari kejahatan diriku._

_Amiinnnn..._

Tafsir Alfatihah Ar Rozi

Penjelasan syekh Arrazi dalam tafsirnya tentang surah Alfatihah yang kita baca.

جمع الفاتحة لكل ما يحتاج إليه:

Surah alfatihah adalah penghimpun dari seluruh aspek kebutuhan manusia.

اعلم أن قوله الحمد لله إشارة إلى إثبات الصانع المختار، وتقريره: أن المعتمد في إثبات الصانع في القرآن هو الاستدلال بخلقة الإنسان على ذلك،

Ketahuilah bahwa ketika engkau mengucapkan "Alhamdulillahi" itu artinya adalah sebagai isyarat bahwa Allah itu adalah mutlaq swbagai sang pencipta. Ikrar itu  merupakan ketetapan yang Allah sendiri menyebutkannya dalam Alquran. Dan ini juga dalil bahwa Allah adalah mutlaq sebagai sang pencipta manusia.

Tidakkah engkau melihat bahwa Ibrahim berkata:

ألا ترى أن إبراهيم عليه السلام قال: ربي الذي يحيي ويميت [البقرة: ٢٥٨] ،

Tuhankulah yang maha menghidupkan dan mematikan. (Al baqarah : 258).

Dia juga berkata di ayat lain:

وقال في موضع آخر: الذي خلقني فهو يهدين [الشعراء: ٧٨] ،

Dialah yang menciptakanku dan memberi petunjuk kepadaku. (Asyuara : 78).

وقال موسى عليه السلام: ربنا الذي أعطى كل شيء خلقه ثم هدى [طه: ٥٠] ،

Dan Musa berkata : Tuhan kamilah yg telah memberi kehidupan semua makhluknya dan memberi kami petunjuk. (Thaha : 50).

Dia berkata dia ayat lain : 

وقال في موضع آخر: ربكم ورب آبائكم الأولين [الشعراء: ٢٦] ،

Allah adalah Tuhanmu dan tuhan bapak2mu yg terdahulu. (Asyuara : 26).

Firman Allah pada awal surah Al baqarah:

وقال تعالى في أول سورة البقرة: يا أيها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون [البقرة: ٢١]

Wahai manusia sembahlah tuhanmu yg telah menciptakan kamu dan orang2 sebelum kamu agar kalian bertakwa. (Al baqarah : 21).

Dan firman Allah pada awal surah yang diturunkan Allah kepada Nabi:

وقال في أول ما أنزله على محمد عليه السلام: اقرأ باسم ربك الذي خلق، خلق الإنسان من علق [العلق: ١، ٢]

Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (Al Alaq : 1 - 2).

فهذه الآيات الست تدل على أنه تعالى استدل بخلق الإنسان على وجود الصانع تعالى، وإذا تأملت في القرآن وجدت هذا النوع من الاستدلال فيه كثيرا جدا.

Ayat2 diatas menunjukkan bahwa adanya manusia itu karena ada penciptanya yaitu Allah SWT. Dan hal ini banyak sekali kita temui didalam ayat lain yang menunjukkan hal itu.

فقوله: الحمد لله يدل على وجود الصانع، وعلى علمه وقدرته، ورحمته، وكمال حكمته وعلى كونه مستحقا للحمد والثناء والتعظيم، فكان قوله الحمد لله دالا على جملة هذه المعاني،

Maka bacaan "Alhamdulillahi" adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba akan adanya sang pencipta, atas ilmunya, kemampuannya, rahmatnya, hikmahnya yg sempurna, maka atas itu semua Dia berhak untuk di puja dan dipuji serta diagungkan. Dan inilah cakupan dari  kata Alhamdulillah itu.

وأما قوله: رب العالمين فهو يدل على أن ذلك الإله واحد، وأن كل العالمين ملكه وملكه، / وليس في العالم إله سواه، ولا معبود غيره،

Sedangkan perkataan "Rabbil alamin" menunjukkan bahwa tuhan itu adalah satu. Dan seluruh alam semesta ini miliknya. Tidak ada tuhan lagi di alam ini kecuali Dia. Dan tidak yg pastas disembah selain Dia.

وأما قوله: الرحمن الرحيم فيدل على أن الإله الواحد الذي لا إله سواه موصوف بكمال الرحمة والكرم والفضل والإحسان قبل الموت وعند الموت وبعد الموت،

Adapun perkataan "Arrahmanirrahim" menunjukkan tuhan yang satu, tiada tuhan selain Dia. Yang memiliki sifat rahmat kemuliaan kebaikan yang sempurna sebelum kematian pada saat kematian maupun setelah kematian.

وأما قوله: مالك يوم الدين فيدل على أن من لوازم حكمته ورحمته أن يحصل بعد هذا اليوم يوم آخر يظهر فيه تمييز المحسن عن المسيء، ويظهر فيه الانتصاف للمظلومين من الظالمين، ولو لم يحصل هذا البعث والحشر لقدح ذلك في كونه رحمانا رحيما،

Adapun perkataan "Maliki Yaumiddin" menunjukkan bahwa siapa yang selalu mengharapkan hikmah dan Rahmat nya dia akan mendapat kebaikan dan dijauhkan dari keburukan pada hari akhirat kelak.

وإلى هاهنا تم ما يحتاج إليه في معرفة الربوبية.

Dan sampai batasan pada bacaan ini sempurnalah seseorang dalam makrifat rububiyah (Ketuhanan).

أما قوله: إياك نعبد- إلى آخر السورة فهو إشارة إلى الأمور التي لا بد من معرفتها في تقرير العبودية، وهي محصورة في نوعين:

Adapun perkataan "Iyyaka Na'budu" sampai akhir surah, adalah sebagai isyarat yang harus dikenali dari ketetapan ikrar ibadah. Dan hal ini dibagi menjadi dua bagian:

الأعمال التي يأتي بها العبد، والآثار المتفرعة على تلك الأعمال.

Yang pertama adalah tentang pekerjaan yang dilakukan seorang hamba, sedangkan yang kedua adalah tentang atsar pengaruh dari pekerjaan itu sendiri dan segala macam bentuknya.

Pertama :

أما الأعمال التي يأتي بها العبد فلها ركنان:

Tentang amal yang dilakukan seorang hamba memiliki dua rukun.

أحدهما: إتيانه بالعبادة وإليه الإشارة بقوله: إياك نعبد. والثاني: علمه بأن لا يمكنه الإتيان بها إلا بإعانة الله وإليه الإشارة بقوله: وإياك نستعين وهاهنا ينفتح البحر الواسع في الجبر والقدر،

1. Melaksanakan ibadah kepadaNya. Inilah isyarat dari perkataan "Iyyaka Na'budu".
2. Mengetahui bahwa seseorang tidak akan bisa melaksanakan ibadah tanpa pertolonganNya. Inilah Isyarat dari perkataan "Waiyyaka nastain".

Dari sinilah akan terbuka lautan yang luas akan bimbingan dan kemampuannya.

Kedua :

وأما الآثار المتفرعة على تلك الأعمال فهي حصول الهداية والانكشاف والتجلي، وإليه الإشارة بقوله: اهدنا الصراط المستقيم

Tentang atsar pengaruh dari pekerjaan itu sendiri dan segala macam bentuknya adalah seorang hamba akan mendapatkan hidayah petunjuk dan inkisyaaf tersingkapnya ketajalian keaguangan Allah. Inilah yang dimaksud dari perkataan "Ihdina shirotol mustaqim".

ثم إن أهل العالم ثلاث طوائف:

Kemudian penduduk yang ada bumi ini terbagi menjadi 3 golongan kelompok :

الطائفة الأولى: الكاملون المحقون المخلصون، وهم الذين جمعوا بين معرفة الحق لذاته، ومعرفة الخير لأجل العمل به، وإليهم الإشارة بقوله: أنعمت عليهم.

Kelompok satu :

Mereka adalah orang2 yang berada dalam kebenaran serta ikhlasan yang sempurna. Dan mereka itu yang dapat menghimpun antara makrifat kepada Allah dan zatnya. Dapat menghimpun makrifat kebenaran amal sholeh yang dikerjakannya. Kepada merekalah ditujukan dari isyarat firma Allah yang berbunyi "An'amta alaihim".

والطائفة الثانية:
الذين أخلوا بالأعمال الصالحة، وهم الفسقة وإليهم الإشارة بقوله: غير المغضوب عليهم.

Kelompok dua :

Mereka adalah para penjahat yang jauh dari amal sholeh yang selalu berbuat kefasikan. Kepada merekalah ditujukan isyarat firman Allah "Ghairil maghdubi alaihim".

والطائفة الثالثة: الذين أخلوا بالاعتقادات الصحيحة، وهم أهل البدع والكفر، وإليهم الإشارة بقوله: ولا الضالين.

Kelompok tiga :

Mereka adalah orang yang tidak memiliki aqiqah shohihah  (Keyakinan yang benar) mereka adalah golongan yang sesat serta kafir. Kepada merekalah ditujukan isyarat dari firman Allah "Waladdhallin".

إذا عرفت هذا فنقول: استكمال النفس الإنسانية بالمعارف والعلوم على قسمين: أحدهما: أن يحاول تحصيلها بالفكر والنظر والاستدلال، والثاني: أن تصل إليه محصولات المتقدمين فتستكمل نفسه، وقوله: اهدنا الصراط المستقيم إشارة إلى القسم الأول، وقوله: صراط الذين أنعمت عليهم إشارة إلى القسم الثاني،

Jika engkau telah mengetahui hal ini, maka kami katakan bahwa jiwa seseorang yang sempurna dengan makrifat dan ilmu pengetahuan itu terbagi menjadi dua.
1. Dia harus mencapainya dengan pembelajaran ilmu, perenungan yang mendalam yang disertai dengan dalil.
2. Harus mendapatkan pengaruh dari apa yang ia lakukan dari ibadahnya sebagai mana yang sdh dijelaskan diatas untuk mencapai kesempurnaan dirinya.

"Ihdina shirotol mustaqim" adalah isyarat untuk no 1.
"Shirotol ladzina an'amta alaihim" adalah isyarat untuk no 2.

ثم في هذا القسم طلب أن يكون اقتداؤه بأنوار عقول الطائفة المحقة الذين جمعوا بين العقائد الصحيحة والأعمال الصائبة، وتبرأ من أن يكون اقتداؤه بطائفة الذين أخلوا بالأعمال الصحيحة، وهم المغضوب عليهم، أو بطائفة الذين أخلوا بالعقائد الصحيحة، وهم الضالون، وهذا آخر السورة، وعند الوقوف على ما لخصناه يظهر أن هذه السورة جامعة لجميع المقامات المعتبرة في معرفة الربوبية ومعرفة العبودية

Kemudian dari berbagai macam pembagian2 menuntut kepada kita semua untuk melaksanakan amaliah ibadah harus dengan melalui cahaya golongan orang2 yg benar kehaketannya kebenarannya yang mereka berlandaskan himpunan antara aqidah ketauhidan yang benar serta dengan amal sholeh yang dilakukan. Dan kita semua harus berlepas terhadap golongan orang2 penjahat yang jauh dari amal sholeh. Mereka adalah "Almaghdub" dan terhadap golongan orang2 aqidahnya sesat. Mereka adalah "Addhollun".

Dan inilah pembahasan dari akhir surah Alfatihah yang dapat kami ringkas secara jelas bahwa surah ini mencakup seluruh tingkat maqamat secara umum berkenaan tentang makrifat ubudiyah peribadatan dan makrifat ubudiyah ketuhanan.

🙏🙏🙏