Selasa, 03 November 2015

Minda

Sedikit tambahan mengenai "ingat Allah" dengan metoda MINDA.

Umpamakanlah kita sedang melamun, merem, dan mengingat DURIAN. lalu terbayanglah gambar durian di benak kita. Pertanyaannya, apakah gambar durian di benak kita itu DURIAN beneran? Tentu bukan.... itu hanya "memori" atau gambaran tentang durian di MINDA kita.

Sama juga saat kita mengingati Allah. lalu MINDA kita 'kosong' dari gambaran apapun. Apakah 'kosong' itu Allah? jelas BUKAN. Tentu saja bukan.

Jadi, yang beliau ajarkan adalah kita mengingat Allah, kemudian kita tidak menyerupakan Allah dengan apapun, tak ada persepsi apapun, maka tak tergambar apa-apa.

kondisi dimana MINDA kita itu tak ada perumpamaan apapun saat kita mengingati Allah; secara istilah bahasa; itu kan 'kosong', ga ada apa-apa. Tapi kosong itu jelas bukan Allah. Maksud beliau adalah, jangan menyerupakan Allah dengan apapun saat kita mengingatNya.

Disitulah saya rasa kekeliruan sebagian orang memahami approach atau pendekatan yang beliau ajarkan.

Intinya, manusia tak bisa menyentuh / melihat / merangkum DIA secara zahir, atau secara makna sebenarnya. penelitian sains terhebat dengan alat apapun tak bisa menyentuh DIA dalam kedudukanNya yang Maha Rahasia itu. Dan pendakian spiritual terhebat siapapun saja juga tak bisa menyentuh DIA dalam kedudukanNya yang Maha Rahasia itu.

Pendek kata, apapun yang bisa diteliti, disentuh, dirasakan, oleh ciptaan yang berada di dalam lauh mahfudz; pastilah ciptaan juga. Sehebat-hebat ciptaan ingin menyentuh, meneliti, merasakan; dengan sains ataupun dengan cara spiritual; pastilah hanya sampai kepada ciptaan juga. Dzat yang sedikit di dalam lauh mahfudz. Dzat yang sedikit yang sudah mengambil sifat.

Maka itu pertalian kita hanyalah "mengingati" Allah.

Saat ingat, kita tak mengumpamakan, atau membayangkan DIA.

Adapun makna musyahadah (penyaksian), itu makna majazi. Penyaksian dengan ilmu yang yakin. Bukan dalam artian sebenarnya

Wallahualam bish shawab

Senin, 02 November 2015

Iqra'

Bismillah.

Saya coba rangkumkan syarahan IQRO kemarin sebatas catatan saya. Mohon dilengkapi bagi yang mencatat juga.

Intinya syarahan IQRO adalah rangkuman flow atau alur susunan kajian yang beliau sudah sampaikan.

Harapan beliau adalah dengan melalui YAMAS yang diketuai Mas Agus dan partnernya mbak Tuti, kita dapat bahu membahu menyampaikan amanah keilmuan makrifatullah ini tanpa agenda pribadi, dan tanpa keluar dari pakem susunan beliau.

Sehingga salah satu yang diharapkan adalah menyatukan golongan syariat dan tasawuf seperti yang pernah dilakukan Imam Ghozali.

=======================

Yang pertama adalah mengenai perbedaan konsep wahdatul wujud, nur muhammad, dan Dzatiyah.

Pada awalnya, ketiga konsep ini menganggap bahwa pada awalnya Allah saja yang ada, tak ada serupa, tak ada umpama. Akan tetapi

- wahdatul wujud menganggap keseluruhan diriNya-lah yang pada saat  DIA berfirman KUN termanifestasikan menjadi alam semesta (ciptaan) hingga tiada beda Dia dan CiptaanNya. ALLAH adalah hakikat alam.

- Nur Muhammad menganggap pada zaman azali Allah membelah menjadi dua. Sebagian menjadi Nur Muhammad. Lalu Allah berfirman KUN pada Nur Muhammad. (jadi pada zaman azali ada dua kewujudan, Allah yang tiada umpama, dan Nur Muhammad). Lalu Nur Muhammadlah yang menjadi kesemua ciptaan.

- Dzatiyah konsep yang beliau sampaikan, bahwa saat beliau berfirman KUN, sedikit atau setitik saja dari diriNya yang termanifestasikan menjadi ciptaan.

Satu hal yang membuat saya yakin bahwa betul beliau ini Arif Billah, adalah karena keilmuannya yang sangat jelas menjabarkan bahwa DIA itu tak serupa tak umpama.

Jadi sebelum DIA berfirman KUN, sama sekali tak ada definisi.

Nama dan sifat pun tak bisa dilekatkan pada DIA dalam kedudukannya yang Maha Rahasia sebelum DIA Kun.

=======================
Kemudian mengenai penjelasan sifat2 berikut ini.

Beliau menjelaskan, kapan sifat2 itu merujuk pada DIA. Kapan sifat2 itu merujuk pada DzatNya yang termanifestasikan jadi ciptaan di dalam LM.

- setiap sifat berikut, menjelaskan tentang DIA-nya. Allah. Bukan DzatNya: Maha Besar. Maha luas. Maha tinggi.

- setiap sifat atau penjelasan berikut maksudnya adalah DzatNya:

Yang wajibul wujud
Yang menjadi batin
Yang zahir
Yang halus lagi meliputi
Yang awal dan akhir
Yang berinteraksi

Sahabat lillah

PERSAHABATAN KARENA ALLOH TA'ALA

🍃 Saudaraku yang dimuliakan Alloh Ta'ala!                                                                                                                      Sebuah persahabatan yang dibangun atas dasar iman,bertemu dan berpisahnya karena Alloh Ta'ala memiliki kemuliaan yang tinggi disisi Alloh Subhanallohu Ta'ala.                         Kemuliaan yang diberikan atas ummat Nabi Muhammad ini,menjadikan iri para Nabi dan ummat-ummat terdahulu.             
Berikut hak- hak/ indikator sebuah perdahabatan yang mendapat kemuliaan disisi Alloh Ta'ala  tersebut :                   
1⃣Hak/indikator Pertama :

💎“أن يحب أخاه لله لا لغرض من الدنيا”

“Hendaknya seorang mencintai saudaranya “lillah” (karena Allah), BUKAN karena tujuan (kepentingan) dunia.”

2⃣Hak/indikator Kedua :

💎“أن يقدم الأخ لأخيه الإعانة بالمال وبالنفس”
“Hendaknya seorang saudara lebih mengutamakan saudaranya yang lain, dalam membantunya baik dengan harta dan juga jiwanya.”

3⃣Hak/ indikator Ketiga :

💎“حفظ العرض. لأداء هذا الحق مظاهر :
تسكت عن ذكر العيوب
لا تدقق معه السؤال
تحفظ أسراره
“Menjaga kehormatan saudaranya.
Untuk mewujudkan hak ini, ada beberapa faktor pendukung :
Diam dari menyebut (baca : menyebarkan) aib-aibnya.
Tidak berdalam-dalam ketika bertanya kepadanya.
Menjaga rahasia-rahasianya.

4⃣Hak/indikator Keempat :

💎“أن تجنب أخاك سوء الظن به”
“Hendaknya engkau menjauhi suudzon (prasangka yang jelek) terhadap saudaramu.”

5⃣Hak/indikator Kelima :

💎“أن تتجنب مع إخوانك المراء والممارة.
المراء له لأسباب :
يظهر أنه لم يستسلم لوجهة النظر
الرغبة في الانتصار
عدم رعاية آفات اللسان
“Seyogianya engkau menjauhi debat kusir, perdebatan dengan cara yang bathil dengan saudaramu.
Dan termasuk sebab yang bisa mengantarkan kepada debat kusir
Nampak bahwa ia tidak menerima pendapat dari suatu sisi pandang.
Menginginkan kemenangan (dari pendapatnya).
Tidak memperdulikan bahaya dari kejelekan lisannya.

6⃣Hak/indikator Keenam :

💎“بذل اللسان لأخيك. وله مظاهر :
لا تكن شحيحا بلسانك
شكره على بذله
أن تثني عليه في غيرn حضوره
“Hendaknya engkau mencurahkan nasihat kepada saudaramu, di sana ada beberapa faktor pendukung :
Janganlah engkau bakhil dari menasihati saudaramu.
Berterima kasih atas kebaikan yang telah ia curahkan.
Engkau senantiasa menyebut saudaramu dengan kebaikan tatkala ia tiada.

7⃣Hak/indikator Ketujuh :

💎“العفو عن الزلات”
“Memaafkan dari kesalahan-kesalahan (baca: kekhilafan) saudaranya”

8⃣Hak/indikator Kedelapan :

💎“الفرح بما آتاه الله جل وعلا في المال والعلم والدين والصلاح”
“Merasa senang, gembira atas apa yang Allah berikan kepada saudaranya.
Dari harta, ilmu, agama dan kebaikan (yang lainnya).”

9⃣Hak/indikator Kesembilan :

💎“أن يكون بينك   إخوانك تعاون في الخير والصلاح”

“Seyogianya engkau saling berta’awun (tolong-menolong) dengan saudaramu, dalam perkara kebaikan dan perkara yang bermanfaat”

🔟Hak/indikator Kesepuluh :

💎“أن يكون بين أصحاب الأخوة الخاصة تشاور وتآلف فيما بينهم”
“Seyogianya antar saudara secara khusus, untuk saling bermusyawarah dan menyatukan langkah pada perkara yang ada diantara mereka.”    
  🍃Semoga Alloh Ta'ala menjadikan persahabatan kita,kekal di dunia dan diakhirat,sebuah persahabatan karena Alloh . Aamiin...................   
📚 Referensi:
(SILSILAH AKHLAQ WAL ADAB, kary.Asy-Syaikh Sholih Alu Asy-Syaikh hafidzahullah)

📝KAMPUNG BERSIH HATI Grup Kajian Shalat Khusyu'

Dunia ibarat nyamuk

MENGEJAR DUNIA IBARAT BEREBUT SAYAP SEEKOR NYAMUK

🍃Dunia memang selalu menggoda. Dunia selalu tampak indah dan menawan. Ia cantik mempesona dan memikat hati banyak manusia.

🍃Namun, dunia juga merupakan cobaan, untuk menguji siapa di antara hamba Allah yang beriman dan siapa yang tidak. (QS. Al Kahfi: 7 dan QS. Al Mulk: 2)

🍃Sebenarnya, banyak orang yang telah memahami hakikat dunia ini, namun masih banyak pula yang terjebak di dalamnya. Yang paling menyedihkan adalah, orang yang tidak mengerti sama sekali hakikat dunia. Mereka adalah orang-orang yang terombang-ambing dalam pusaran gelombang hawa nafsu yang sengaja dipasang oleh setan untuk dijadikan perangkap dalam menyesatkan manusia. Padahal harga dunia seisinya telah digambarkan oleh Nabi shallallahu’alaihiwasallam dalam sabdanya,

“لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ؛ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ”.

“Andaikan dunia di sisi Allah seharga sayap seekor nyamuk; niscaya Allah tidak akan memberikan seteguk air pun untuk orang kafir”. HR. Tirmidzy dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu dan isnadnya dinyatakan sahih oleh al-Hakim.

🍃Sayap seekor nyamuk, siapa yang mau? Diberi gratispun kita tidak mau. Namun anehnya tidak sedikit di antara manusia yang mati-matian berebut sayap nyamuk tersebut, bahkan sampai mempertaruhkan surga mereka sekalipun! Berikut beberapa contoh praktek nyatanya:

1⃣. Mengorbankan tali silaturrahim karena berebut warisan.

Dari Jubair bin Muth’im bahwa Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ”.

Tidak akan masuk surga pemutus (silaturrahim)”. HR. Bukhari dan Muslim.

2⃣ Menghalalkan segala cara demi meraih kursi panas jabatan.

Rasulullah shallallahu’alahiwasallam menasehatkan,

“لَا تَسْأَلْ الْإِمَارَةَ! فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Janganlah meminta-minta jabatan, sebab jika engkau mendapatkan suatu jabatan lantaran permintaan darimu niscaya engkau tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah ta’ala. Namun jika engkau mendapatkannya bukan karena permintaan darimu niscaya engkau akan mendapatkan bantuan (dari Allah ta’ala) dalam mengembannya”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu’anhu.

3⃣. Mengorbankan prinsip-prinsip agama untuk menjaga kedudukan sosial.

Allah ta’ala menggambarkan akibat perilaku tersebut dalam firman-Nya,

“أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآَخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ”.

Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong”. QS. Al-Baqarah: 86

Sungguh dunia sangat kecil jika dibandingkan akhirat, dunia tidak ada apa apanya, Semoga kita hidup bukan hanya memperebutkan sayap seekor nyamuk , melainkan  menjadi hamba yang pandai bersabar ketika diuji dan pandai bersyukur ketika mendapat nikmat. Aamiin.......yaa robbal 'alamiin...                                                         
📝KAMPUNG BERSIH HATI            Grup Kajian Shalat Khusyu'

Keaadaan Neraka

Kala itu Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang tak biasa. Namun, Jibril terlihat berbeda. Raut wajah yang tak biasa.

Maka Rasulullah SAW bertanya:

"Mengapa aku melihat kau berubah muka (wajah)?" Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikabarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya".

Lalu Rasullulah Saw bersabda:

"Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam".

Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahanam, maka dinyalakan selama 1000 tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan 1000 tahun sehingga putih, kemudian 1000 tahun sehingga hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya.

Demi Allah, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar semua penduduk dunia karena panasnya. Demi Allah, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan basinya.

Demi Allah, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke 7.

Demi Allah, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur karena sangat panasnya. Jahannam itu sangat dalam, perhiasannya besi dan minumannya air panas bercampur nanah, dan pakaiannya adalah potongan-potongan api.

Api neraka itu ada 7 pintu, jarak antar pintu sejauh 70 tahun, dan tiap pintu panasnya 70 kali dari pintu yg lain".

Dikatakan dalam Hadist Qudsi:

"Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahariKu. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu: mempunyai 7 tingkat.

Setiap tingkat mempunyai 70.000 daerah. Setiap daerah mempunyai 70.000 kampung. Setiap kampung mempunyai 70.000 rumah. Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik. Setiap bilik mempunyai 70.000 kotak. Setiap kotak mempunyai 70.000 batang pokok zaqqum.

Di bawah setiap pokok zaqqum mempunyai 70.000 ekor ular. Di dalam mulut setiap ular yang panjangnya 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat. Dan di bawah setiap pokok zaqqum terdapat 70.000 rantai. Setiap rantai diseret oleh 70.000 malaikat".

"Api yang ada sekarang ini, yang digunakan bani Adam untuk membakar hanyalah 1/70 dari api neraka jahannam" (HR. Bukhari-Muslim). "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka akan mendengar kegeraman dan suara nyalanya". (QS. Al-Furqan: 11).

"Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah lantaran marah". (QS. Al-Mulk: 7).

Air di jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak), anginnya adalah samum (angin yang amat panas), sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang sangat panas) (QS. Al-Waqi'ah: 41-44).

Rasulullah Saw meminta Jibril untuk menjelaskan satu per satu mengenai pintu-pintu neraka tersebut.

"Pintu pertama dinamakan Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir. Pintu ke 2 dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin; Pintu ke 3 dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum shobiin atau penyembah api; Pintu ke 4 dinamakan Ladha, diperuntukkan bagi iblis dan para pengikutnya; Pintu ke 5 dinamakan Huthomah (artinya: menghancurkan hingga berkeping-keping), diperuntukkan bagi kaum Yahudi; Pintu ke 6 dinamakan Sa'ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), diperuntukkan bagi kaum kafir.

Rasulullah bertanya: "Bagaimana dengan pintu ke 7?"

Sejenak malaikat Jibril seperti ragu untuk menyampaikan siapa yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasulullah Saw mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril mengatakan,"Pintu ke 7 diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka mengucapkan kata taubat".

Mendengar penjelasan yang mengagetkan itu, Rasulullah Saw pun langsung pingsan, Jibril lalu meletakkan kepala Rasulullah Saw di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar beliau bersabda: "Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari umat ku yang akan masuk ke dalam neraka?"Jawabnya: "Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari umatmu."

Nabi Muhammad SAW lalu menangis, Jibril pun ikut menangis. Kemudian Nabi langsung masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau pun menangis dengan tangisan yang sangat memilukan.

Sabtu, 31 Oktober 2015

Allah Cemburu

" Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang,maka Allah timpakan kepadamu Pedihnya sebuah Pengharapan,...agar kamu mengetahui bahwa Allah sangat Mencemburui Hati yang Berharap selain kepada-Nya.
Maka Allah Menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali Berharap kepada-Nya.... "
(-IMAM SYAFI'I-)
(Qiyamul lail )

Rabu, 28 Oktober 2015

Doa SAW di Thaif

😔😢

Doa Nabi yang mengharukan ketika di taif

Selepas wafatnya Abu Thalib, perlawanan dan kedzaliman tak henti-hentinya dilakukan oleh kaum Quraisy kepada Nabi.

Orang-orang Quraisy tidak segan-segan melemparkan tanah atau kotoran kepada Nabi, ketika Nabi berjalan atau ketika ia sujud melakukan shalat.

Sambil menangis berlinang air mata, Fathimah, putri Nabi lalu membersihkan kepala ayahnya. Tak ada yang lebih duka rasanya dalam kalbu seorang ayah daripada mendengar tangis anaknya, lebih-lebih anak perempuan yang baru saja ditinggalkan ibunya.

Ia berkata kepada putrinya, “Jangan menangis anakku, sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu”

(Hayatu Muhammad, hlm 186).

Ketika tekanan dan penghinaan orang-orang Quraisy terhadap Rasul semakin gencar itulah, Allah memerintahkan Rasul untuk melakukan perjalanan Thaif. Dengan jalan kaki Rasul menaruh harapan pada kaum Bani Tsaqif yang menduduki wilayah Thaif itu, semoga mau menerima agama Allah.

Namun, penduduk Thaif ternyata amat bengis. Mereka menolak kedatangan Nabi dan agama yang ia bawa. Demikian kasarnya sikap mereka kepada Nabi, sehingga mereka menghianati kebiasaan bangsa Arab, yang selalu menghormati tamunya.

Ketika penduduk Thaif mengusir dan melempari mereka dengan baru, Nabi berlindung di bawah pohon anggur milik Uthbah dan Syaibah. Di tempat itu beliau menengadah ke langit, hanyut dalam suatu doa pengaduan yang sangat mengharukan.

Inilah doa yang beliau panjatkan :

"اللهم إني أشكو إليك ضعف قوتي وهواني على الناس،
Ya Allah, kepadaMu aku mengadukan kelemahanku, dan kekuranganku dan kehinaanku di hadapan manusia.
يا أرحم الراحمين أنت أرحم الراحمين
Wahai Zat yang maha pengasih dan penyayang Engkaulah pengasih dan penyayang
إلى من تكلني
Kepada siapa engkau serahkan diriku
إلى عدو يتجهمني
Kepada musuh yg menyerangku
أم إلى قريب ملكته أمري،
Atau kepada kerabat yg menguasaiku
إن لم تكن غضبان علي فلا أبالي،
Asal Engkau tidak murka padaku, aku tidak peduli
غير أن عافيتك أوسع لي،
Kecuali hanya karuniaMu yg lebih luas untuku
أعوذ بوجهك الذي أشرقت له الظلمات
Aku berlindung dengan wajahMu yang menerangi segala kegelapan
وصلح عليه أمر الدنيا والآخرة
Yg karenanya membawa manffaat dunia dan akhirat
أن ينزل بي غضبك أو يحل بي سخطك،
Daripada engkau menurunkan murkaMu kepadaku atau engkau menghalalkan kemarahmu kepadaku
لك العتبى حتى ترضى،
Tegurlah diriku sampai engkau rido kepadaku
ولا حول ولا قوة إلا بالله
Tiada daya dan upaya kecuali darimu ya Allah

Hayatu Muhammad hlm 187