Kamis, 15 September 2016

Tafsir Alfatihah Ar Rozi

Penjelasan syekh Arrazi dalam tafsirnya tentang surah Alfatihah yang kita baca.

جمع الفاتحة لكل ما يحتاج إليه:

Surah alfatihah adalah penghimpun dari seluruh aspek kebutuhan manusia.

اعلم أن قوله الحمد لله إشارة إلى إثبات الصانع المختار، وتقريره: أن المعتمد في إثبات الصانع في القرآن هو الاستدلال بخلقة الإنسان على ذلك،

Ketahuilah bahwa ketika engkau mengucapkan "Alhamdulillahi" itu artinya adalah sebagai isyarat bahwa Allah itu adalah mutlaq swbagai sang pencipta. Ikrar itu  merupakan ketetapan yang Allah sendiri menyebutkannya dalam Alquran. Dan ini juga dalil bahwa Allah adalah mutlaq sebagai sang pencipta manusia.

Tidakkah engkau melihat bahwa Ibrahim berkata:

ألا ترى أن إبراهيم عليه السلام قال: ربي الذي يحيي ويميت [البقرة: ٢٥٨] ،

Tuhankulah yang maha menghidupkan dan mematikan. (Al baqarah : 258).

Dia juga berkata di ayat lain:

وقال في موضع آخر: الذي خلقني فهو يهدين [الشعراء: ٧٨] ،

Dialah yang menciptakanku dan memberi petunjuk kepadaku. (Asyuara : 78).

وقال موسى عليه السلام: ربنا الذي أعطى كل شيء خلقه ثم هدى [طه: ٥٠] ،

Dan Musa berkata : Tuhan kamilah yg telah memberi kehidupan semua makhluknya dan memberi kami petunjuk. (Thaha : 50).

Dia berkata dia ayat lain : 

وقال في موضع آخر: ربكم ورب آبائكم الأولين [الشعراء: ٢٦] ،

Allah adalah Tuhanmu dan tuhan bapak2mu yg terdahulu. (Asyuara : 26).

Firman Allah pada awal surah Al baqarah:

وقال تعالى في أول سورة البقرة: يا أيها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون [البقرة: ٢١]

Wahai manusia sembahlah tuhanmu yg telah menciptakan kamu dan orang2 sebelum kamu agar kalian bertakwa. (Al baqarah : 21).

Dan firman Allah pada awal surah yang diturunkan Allah kepada Nabi:

وقال في أول ما أنزله على محمد عليه السلام: اقرأ باسم ربك الذي خلق، خلق الإنسان من علق [العلق: ١، ٢]

Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (Al Alaq : 1 - 2).

فهذه الآيات الست تدل على أنه تعالى استدل بخلق الإنسان على وجود الصانع تعالى، وإذا تأملت في القرآن وجدت هذا النوع من الاستدلال فيه كثيرا جدا.

Ayat2 diatas menunjukkan bahwa adanya manusia itu karena ada penciptanya yaitu Allah SWT. Dan hal ini banyak sekali kita temui didalam ayat lain yang menunjukkan hal itu.

فقوله: الحمد لله يدل على وجود الصانع، وعلى علمه وقدرته، ورحمته، وكمال حكمته وعلى كونه مستحقا للحمد والثناء والتعظيم، فكان قوله الحمد لله دالا على جملة هذه المعاني،

Maka bacaan "Alhamdulillahi" adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba akan adanya sang pencipta, atas ilmunya, kemampuannya, rahmatnya, hikmahnya yg sempurna, maka atas itu semua Dia berhak untuk di puja dan dipuji serta diagungkan. Dan inilah cakupan dari  kata Alhamdulillah itu.

وأما قوله: رب العالمين فهو يدل على أن ذلك الإله واحد، وأن كل العالمين ملكه وملكه، / وليس في العالم إله سواه، ولا معبود غيره،

Sedangkan perkataan "Rabbil alamin" menunjukkan bahwa tuhan itu adalah satu. Dan seluruh alam semesta ini miliknya. Tidak ada tuhan lagi di alam ini kecuali Dia. Dan tidak yg pastas disembah selain Dia.

وأما قوله: الرحمن الرحيم فيدل على أن الإله الواحد الذي لا إله سواه موصوف بكمال الرحمة والكرم والفضل والإحسان قبل الموت وعند الموت وبعد الموت،

Adapun perkataan "Arrahmanirrahim" menunjukkan tuhan yang satu, tiada tuhan selain Dia. Yang memiliki sifat rahmat kemuliaan kebaikan yang sempurna sebelum kematian pada saat kematian maupun setelah kematian.

وأما قوله: مالك يوم الدين فيدل على أن من لوازم حكمته ورحمته أن يحصل بعد هذا اليوم يوم آخر يظهر فيه تمييز المحسن عن المسيء، ويظهر فيه الانتصاف للمظلومين من الظالمين، ولو لم يحصل هذا البعث والحشر لقدح ذلك في كونه رحمانا رحيما،

Adapun perkataan "Maliki Yaumiddin" menunjukkan bahwa siapa yang selalu mengharapkan hikmah dan Rahmat nya dia akan mendapat kebaikan dan dijauhkan dari keburukan pada hari akhirat kelak.

وإلى هاهنا تم ما يحتاج إليه في معرفة الربوبية.

Dan sampai batasan pada bacaan ini sempurnalah seseorang dalam makrifat rububiyah (Ketuhanan).

أما قوله: إياك نعبد- إلى آخر السورة فهو إشارة إلى الأمور التي لا بد من معرفتها في تقرير العبودية، وهي محصورة في نوعين:

Adapun perkataan "Iyyaka Na'budu" sampai akhir surah, adalah sebagai isyarat yang harus dikenali dari ketetapan ikrar ibadah. Dan hal ini dibagi menjadi dua bagian:

الأعمال التي يأتي بها العبد، والآثار المتفرعة على تلك الأعمال.

Yang pertama adalah tentang pekerjaan yang dilakukan seorang hamba, sedangkan yang kedua adalah tentang atsar pengaruh dari pekerjaan itu sendiri dan segala macam bentuknya.

Pertama :

أما الأعمال التي يأتي بها العبد فلها ركنان:

Tentang amal yang dilakukan seorang hamba memiliki dua rukun.

أحدهما: إتيانه بالعبادة وإليه الإشارة بقوله: إياك نعبد. والثاني: علمه بأن لا يمكنه الإتيان بها إلا بإعانة الله وإليه الإشارة بقوله: وإياك نستعين وهاهنا ينفتح البحر الواسع في الجبر والقدر،

1. Melaksanakan ibadah kepadaNya. Inilah isyarat dari perkataan "Iyyaka Na'budu".
2. Mengetahui bahwa seseorang tidak akan bisa melaksanakan ibadah tanpa pertolonganNya. Inilah Isyarat dari perkataan "Waiyyaka nastain".

Dari sinilah akan terbuka lautan yang luas akan bimbingan dan kemampuannya.

Kedua :

وأما الآثار المتفرعة على تلك الأعمال فهي حصول الهداية والانكشاف والتجلي، وإليه الإشارة بقوله: اهدنا الصراط المستقيم

Tentang atsar pengaruh dari pekerjaan itu sendiri dan segala macam bentuknya adalah seorang hamba akan mendapatkan hidayah petunjuk dan inkisyaaf tersingkapnya ketajalian keaguangan Allah. Inilah yang dimaksud dari perkataan "Ihdina shirotol mustaqim".

ثم إن أهل العالم ثلاث طوائف:

Kemudian penduduk yang ada bumi ini terbagi menjadi 3 golongan kelompok :

الطائفة الأولى: الكاملون المحقون المخلصون، وهم الذين جمعوا بين معرفة الحق لذاته، ومعرفة الخير لأجل العمل به، وإليهم الإشارة بقوله: أنعمت عليهم.

Kelompok satu :

Mereka adalah orang2 yang berada dalam kebenaran serta ikhlasan yang sempurna. Dan mereka itu yang dapat menghimpun antara makrifat kepada Allah dan zatnya. Dapat menghimpun makrifat kebenaran amal sholeh yang dikerjakannya. Kepada merekalah ditujukan dari isyarat firma Allah yang berbunyi "An'amta alaihim".

والطائفة الثانية:
الذين أخلوا بالأعمال الصالحة، وهم الفسقة وإليهم الإشارة بقوله: غير المغضوب عليهم.

Kelompok dua :

Mereka adalah para penjahat yang jauh dari amal sholeh yang selalu berbuat kefasikan. Kepada merekalah ditujukan isyarat firman Allah "Ghairil maghdubi alaihim".

والطائفة الثالثة: الذين أخلوا بالاعتقادات الصحيحة، وهم أهل البدع والكفر، وإليهم الإشارة بقوله: ولا الضالين.

Kelompok tiga :

Mereka adalah orang yang tidak memiliki aqiqah shohihah  (Keyakinan yang benar) mereka adalah golongan yang sesat serta kafir. Kepada merekalah ditujukan isyarat dari firman Allah "Waladdhallin".

إذا عرفت هذا فنقول: استكمال النفس الإنسانية بالمعارف والعلوم على قسمين: أحدهما: أن يحاول تحصيلها بالفكر والنظر والاستدلال، والثاني: أن تصل إليه محصولات المتقدمين فتستكمل نفسه، وقوله: اهدنا الصراط المستقيم إشارة إلى القسم الأول، وقوله: صراط الذين أنعمت عليهم إشارة إلى القسم الثاني،

Jika engkau telah mengetahui hal ini, maka kami katakan bahwa jiwa seseorang yang sempurna dengan makrifat dan ilmu pengetahuan itu terbagi menjadi dua.
1. Dia harus mencapainya dengan pembelajaran ilmu, perenungan yang mendalam yang disertai dengan dalil.
2. Harus mendapatkan pengaruh dari apa yang ia lakukan dari ibadahnya sebagai mana yang sdh dijelaskan diatas untuk mencapai kesempurnaan dirinya.

"Ihdina shirotol mustaqim" adalah isyarat untuk no 1.
"Shirotol ladzina an'amta alaihim" adalah isyarat untuk no 2.

ثم في هذا القسم طلب أن يكون اقتداؤه بأنوار عقول الطائفة المحقة الذين جمعوا بين العقائد الصحيحة والأعمال الصائبة، وتبرأ من أن يكون اقتداؤه بطائفة الذين أخلوا بالأعمال الصحيحة، وهم المغضوب عليهم، أو بطائفة الذين أخلوا بالعقائد الصحيحة، وهم الضالون، وهذا آخر السورة، وعند الوقوف على ما لخصناه يظهر أن هذه السورة جامعة لجميع المقامات المعتبرة في معرفة الربوبية ومعرفة العبودية

Kemudian dari berbagai macam pembagian2 menuntut kepada kita semua untuk melaksanakan amaliah ibadah harus dengan melalui cahaya golongan orang2 yg benar kehaketannya kebenarannya yang mereka berlandaskan himpunan antara aqidah ketauhidan yang benar serta dengan amal sholeh yang dilakukan. Dan kita semua harus berlepas terhadap golongan orang2 penjahat yang jauh dari amal sholeh. Mereka adalah "Almaghdub" dan terhadap golongan orang2 aqidahnya sesat. Mereka adalah "Addhollun".

Dan inilah pembahasan dari akhir surah Alfatihah yang dapat kami ringkas secara jelas bahwa surah ini mencakup seluruh tingkat maqamat secara umum berkenaan tentang makrifat ubudiyah peribadatan dan makrifat ubudiyah ketuhanan.

🙏🙏🙏

Persahabatan

✨*RENUNGAN *✨

7 (tujuh) MACAM PERSAHABATAN,
Tapi Hanya 1 Tersisa Sampai di Akhirat .

1. *“Ta’aruffan”*, adalah persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, bioskop dan lainnya.

2. *“Taariiihan”*, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama dan sebagainya.

3. *“Ahammiyyatan”*, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

4. *“Faarihan”*, adalah persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, tenis, berburu, memancing, dan sebagainya.

5. *“Amalan”*, adalah persahabatan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, jaksa dan sebagainya.

6. *“Aduwwan”*, adalah seolah sahabat tetapi musuh, di depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, _“Bila engkau memperoleh nikmat, ia benci, bila engkau tertimpa musibah, ia senang” (QS 3:120)._

Rasulullah mengajarkan do'a, _“Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.”_

7. *“Hubban Iimaanan”*, adalah sebuah ikatan persahabatan yang lahir batin, tulus saling cinta & sayang karena ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam2 dipenghujung malam, ia do'akan sahabatnya.

Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta’ala.

Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 – 6 akan sirna di Akhirat. yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, yaitu _persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10)_.

“Teman-teman akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain, kecuali persahabatan karena Ketaqwaan” (QS 43:67).

Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Perbanyaklah sahabat-sahabat mu'min-mu, karena mereka memiliki *syafa'at* pada hari kiamat." 😭

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis:
_"Jika kalian tidak menemukan aku nanti di surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta'ala tentang aku, "Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu._

" Sahabatku....
Mudah-mudahan dengan ini, aku dapat bersamamu kelak di Surga & meraih Ridha-Nya...
Aku memohon kepada-Mu...

"Ya Rabb, karuniakanlah kepadaku sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk, patuh & taat kepada syari'at-Mu... Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu...Aamiin..🎈

Terima kasih Kakek Abu.. Umi...dan sahabat kbh semua 🙏

Al-Fatihah....

Ust Abu SM Sidoarjo

Bagi seorang mukmin yang menghayati sholatnya dan menghidupkannya dakwah berhasil atau tidak berhasil itu bukan urusannya. Yang namanya Yasroh sodrohu itu memang benar2 ada sebagaimana sakit hati itu juga ada dan selalu menempel kemanapun kita pergi dan dimanapun dia berada._

_Sebagaimana firman Allah :_

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

_Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) fujur dan ketakwaannya. (Assyams : 7 - 8)._

_Kata Fujur itu bisa diartikan kefasikan atau kejahatan. Dan jahat itu adalah Ilham. Sebagaimana ayat Quran diatas. Ilham itu tidak muncul dari pikirannya dan tidak muncul dari perasaanya (Alhissi wal Aqli) tapi muncul dari Allah langsung karena sayangnya Allah atau kemarahan Allah. Sebagaimana Allah marah kepada Iblis dan itu energi langsung dari Allah. Kenapa? Karena dia tidak beriman kepada Allah._

_Sebagaimana firman Allah :_

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

_Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (Al An'am : 126)._

_Begitu juga takwa juga Ilham. Makanya Allah juga berfirman :_

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

_Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Assyams : 10,11)._

_Ketika seseorang yang tidak dikasih Allag Ilham taqwa kemudian bersedekah akan sakit rasanya. Begitu juga ketika dia melaksanakan amal kebaikan yang lain termasuk sholat dia akan tersiksa rasanya._

_Makanya Allah menasehati orang2 yang beriman dengan firmannya:_

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

_Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran : 132)._

_Setiap jumat kita diingatkan akan ayat ini. Kemudian apa balasan bagi orang yang bertakwa?_

_Firman Allah :_

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

_Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (Attalaq : 2 - 3)._

_Takwa juga sangat berkaitqn dengan rezeki dan sekali2 alquran tidak pernah salah dalam hal ini... marilah selalu kita dengarkan alquran kita ikuti kita patuhi nasehat Alquran._

الخشوع لين القلب والفاجر قسوة القب

_Orang yang khusyu itu hatinya akan lembut. Sedangkan orang yang fajir selalu mengikuti Ilham fujur tidak khusyu hatinya akan keras. Tidak gampang yang dari Allah itu. Bagaimana caranya supaya kita tetap dalam kekhusyu'an?_

_Firman Allah :_

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

_Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia syirik dalam beribadat kepada Tuhannya". (Alkahfi : 110)._

_Contoh Syirik kecil adalah kecewa dengan pekerjaan kita. Adapun syirik besar adalah tidak beriman kepada Allah. Tidak percaya terhadap pertolongan Allah padahal Allah menasehati kita ketika kita sedang bermasalah. Dengan firmannya:_

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

_Jikalau kamu tidak mampu menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka seketika itu Allah menurunkan sakinahNya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

*_Lanjutan pengajaran Ust Abu di Masjid Sidratul Muntaha Sidoarjo..._*

_Ketika seseorang sholat hendaknya orang itu berdialog dan isthgrraq tenggelam dalam sholatnya._

_Karena hatinya diletakkan dihadapan tuhannya._

_Ya Rabb... inilah takbirku.._

_Inilah alfatihahku aku bacakan kepadamu..._

_Inilah rukukku. Inilah sujudku..._

_Inilah penghormatanku dalam tahiyyatku..._

_Lamakan hayati dan dalami maknanya. Rabbighfirli... diamlah... rasakan ampunan Allah...._

_Warzuqni... rasakan akan pengabulan Allah dalam permintaanmu..._

_Carilah nikmatnya rasakan kelezatannya. Carilah kelapangannya merasuk halus kedalam dadamu..._

_Doakan ummatmu jangan engkau pelit dengan hanya berdoa hanya untukmu dan keluargamu._

_Tetapi ketika engkau berjamaah hanya cukup tumakninah saja dan ikutilah imam bagaimanapun keadaannya._

_Karena Rasulullah pernah marah kepada Sayyidina Muadz Bin Jabal ketika beliau mengimami jamaah. Karena rukuknya dan panjangnya bacaannya. Tumakninahlah sesuai bacaan yang engkau baca._

_Di Sc sekarang tidak ada lagi malam Jumatan. Hanya sholat Hajat dan sholat. Sholat dan sholat._

_Lihatlah Tuhanmu dengan hatimu, dalam sujudmu itulah engkau sedekat2 nya dengan tuhanmu._

سجدة لا يرفع رأسه عنها حتى يلقاه

_Sajdatan la yarfau raksuhu hatta yalqahu_

_Disanalah ada liqa ada perjumpaan disana ada musyahadah saling menyaksikan. Syahadatmu dalam kesaksianmu._

_Akan hilang was2mu karena hatimu telah dipenuhi dengan cahayaNya karena engkau telah terbuka dadamu._

_Sebaliknya jika hatimu dipenuhi oleh kegelisahan maka disanalah engkau akan merasakan tersiksa dalam sholatmu maupun dalam keseharianmu._

_Jagalah sholat ini sampai diangkat hijabmu antara engkau dengan tuhanmu. Engkau akan saling menyaksikan._

لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار وهو اللطيف الخبير

_Allah itu hidup alhayyul qayyum makanya terasa tersingkap lah hijab melalui fi qulubikum._

_Engkau akan merasakan ketinggiannya tersungkur menangis dalam keagungannya._

_Sibukkanlah hatimu dengan sholat yang engkau kerjakan Allah pasti melihat sholatmu merespon segala Hajat dan keperluanmu._

_Hatimu akan menjadi sejuk tidak panas. Kita selama ini sejuk karena air sebagaimana kita panas karena api namun disini Allah memakai kata yang sama antara sejuknya air dan panasnya api._

_Pernahkah engkau mengalami sejuk dalam sholatmu?_

_Apakah engkau merasa panas dalam sholatmu?_

_Sejuk karena nur Allah atau panas karena naar Allah yang diberikan padamu._

_Insyaha Wan fasaha adalah simbol kesejukan dan kenikmatan._

_Allah juga menyebut kata binatang bagi orang yang dipenuhi nar Allah. Bahkan mereka lebih sesat lagi._

_Begitulah gambaran Alquran yang harus kita perhatikan._

_Sholat adalah qurrata ain Permata hati. Dan inilah dzikir tertinggi walaupun aku pernah berdzikir sampai semalam suntuk namun belum apa2 dibanding dengan kenikmatanku dalam sholatku._

_Sdh berbagi pengalaman dalam dzikir ini aku ajarkan kepada muridku seperti Pak Mardianto adalah muridku yang terakhir begitupula dr. Hadi saya bersyukur dia tidak gila._

_Dan inilah kesesatanku dan kesesatan murid2ku. Kenapa? Karena disana tidak ada adzkurkumnya Allah._

_Keadaanmu didunia inilah keadaamu di akhirat nanti. Bahagianya engkau karena pertemuanmu Allah didalam sholatmu begitu juga lebih nikmat lagi ketika engkau bertemu dengaNya di surganya._

_Saya tanya kalian terasakah didalam dadamu dinginnya ketika engkau bertakbir? Sampai merasuk tembus kepada sekujur tubuhmu? Dan bekasnya sampai engkau rasakan dalam kehidupanmu._

_Bagaimana engkau tahu bahwa Allah menyambut sholatmu?_

هو الذي أنزل السكينة في قلوب المؤمنين

_Melalui ketenangan inilah engkau mampu menangkap khabar dari Allah dan petunjuk yang sangat jelas dariNya._

_Aku akan menunggu ketenangan ini dari hati kalian. Kalau tidak ada harus ada._

Belajarlah terus sampai Allah membuka dadamu. Mari kembali kepada Alquran. Latihanlah amalkan ilmu ini.

Selasa, 13 September 2016

Wukuf arofah

*HAKIKAT WUQUF DI PADANG ARAFAH*

*PADANG ARAFAH...*

*Arafah* adalah _'padang pengetahuan’_ dimana *Nabi Adam* melakukan pertaubatan untuk memperoleh kembali kualitasnya sebagai _‘makhluk surga’._

Di padang ini pula *Nabi Ibrahim* mendapatkan  _pencerahan dan keterbukaan jiwa,_ memantapkan niat berkorban, mencapai kualitas berserah diri yang sempurna. Dan kemudian diabadikan Allah sebagai ritual haji bagi umat Islam di seluruh dunia..! 

Di padang Arafah ini juga *Nabi Muhammad saw* menengadahkan kedua tangannya tinggi-tinggi, menangis di tengah terik gurun yang panas membara, memohon ampunan kepada Allah atas segala salah dan dosa,
memanjatkan doa dan memasrahkan seluruh jiwa raga pada pada penghambaan total kepada Sang Penguasa jagat raya, Allah ‘Azza wa Jalla...

*Arafah* berasal dari kata _‘arafa_ yakni _‘mengetahui’_ atau _’mengenal’._

Kata ini digunakan untuk menjelaskan ‘pengetahuan’ dan ‘pengenalan’ terhadap kebenaran yang mendorong munculnya keimanan pada diri seseorang. (QS. Al-Maaidah, 5:83).

Di ayat lain, kata _‘arafa_ digunakan untuk menjelaskan pengetahuan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di muka bumi dan di jagat semesta ini. 

Orang yang mencapai tingkatan ini disebut _‘arif._ Kata benda dari _‘arafah_  ini adalah _ma’rifah (ma’rifat)_ yang bermakna pengetahuan yang mendalam tentang ilmu Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an maupun yang terhampar di alam semesta. (QS. An-Naml, 27:93).

Lebih jauh, kata _‘arafa_ mengalami berbgai bentukan kata yang berkonotasi positif pada proses spiritualitas seoang hamba Allah.
Diantaranya adalah _‘urfaa, ma'ruufa,  dan ma'ruufah._

Kata _‘urfaa_  dan _ma’ruuf_ memberikan konotasi tentang kebaikan dalam sikap, perilaku, kata-kata dan perbuatan yang membawa manfaat bagi orang lain. (QS. Al-Mursalat, 77:1; Al-Baqarah, 2:263;  An-Nisa’, 4:114; Luqman, 31:15).

Sedangkan kata _ma’ruufah_ menjelaskan bahwa menjalankan agama ini haruslah disertai ketaatan yang sempurna. Bukan sekedar ikut-ikutan atau terpaksa.
Ketaatan seperti ini didapatkan dari kepahaman  tentang kebesaran Allah  _(ma’rifatullah)_ yang melahirkan ketaqwaan sejati. Buahnya adalah kemenangan hakiki. (QS. An-Nuur, 24:52-53).

*PENCERAHAN JIWA DI PADANG PENGETAHUAN*

Tanggal 9 Dzulhijjah adalah puncak ritual ibadah haji di tanah suci.
Di padang tandus inilah jamaah haji memulai ritualnya dengan cara berdiam diri melakukan perenungan dan bertafakur tentang substansi kehidupannya sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Perenungan yang memakan waktu sekitar 5-6 jam –Zhuhur sampai Maghrib – itu kita kenal sebagai ritual _Wuquf._

Ia berasal dari kata _waqafa_ yang bermakna ‘berhenti’.  

_Wuquf_  mengajari umat Islam agar sejenak menghentikan aktifitasnya, berhenti dari kegiatan apapun agar bisa melakukan perenungan jati diri. 

Dengan perenungan ini, akan terjadi proses terbukanya hijab kegelapan atas semua dosa dan maksiat yang pernah kita lakukan.
Dan terbuka pula hijab-hijab yang lebih halus dalam jiwa kita. Hingga kita mampu menggapai derajat _ma’rifah (ma’rifatullah)_ di padang Arafah.

Rasulullah saw bersabda,  _*“Tidak ada haji tanpa wuquf.”*_

Artinya, tidak ada haji tanpa perenungan di Arafah.
Tidak akan pernah ada pencapaian puncak keislaman sorang muslim, tanpa ma’rifatullah di Padang Pengetahuan.
Karena sesungguhnya, ini baru permulaan bagi perjalanan spiritual berikutnya seperti: lempar jumrah di Mina, thawaf di seputar Ka’bah dan diakhiri dengan Sa’i antara Shafa dan Marwah.

_Arafah_ adalah tonggak berubahnya sebuah keraguan dari ketidakpastian menjadi sebuah keyakinan yang kokoh berdasar pengetahuan yang mendalam, hingga siap berkorban demi untuk Allah, dalam bentuk  kebajikan buat sesama.

Dilanjutkan dengan melempari sifat-sifat setaniyah di dalam diri setiap kita, yang disimbolkan dengan lempar jumrah.
Sebuah sikap ‘permusuhan’ yang sangat jelas terhadap setan yang bersemayam di dalam jiwa manusia.

Kemudian dilanjutkan dengan _thawaf_ mengelilingi Ka’bah sebagai ungkapan  untuk  _memusatkan seluruh aktifitas kehidupan kita hanya kepada Allah_.
Bukan berputar-putar disekitar harta, kekuasaan, dan segala kecintaan dunia belaka. 

Seluruh gerakan thawaf kita adalah sebuah kebersamaan  _hablum-minannaas_ (hubungan antar manusia) untuk dipusatkan kepada Allah, sebagai manifestasi  _hablum-minallaah_ (hubungan dengan Allah). 

_Thawaf_ adalah inti gerakan seluruh alam semesta yang semua bertasbih kepada Allah.

Sedang _Sa’i_ adalah manifestasi dari perjuangan tiada henti untuk mencapai kesuksesan sejati dalam hidup.
Sebuah kesuksesan duniawi yang dijadikan pijakan dan modal mencapai kebahagiaan ukhrawi.

Jadi, Padang Arafah adalah tempat suci yang mengantarkan setiap jamaah haji untuk memulai dan memperbaharui KOMITMEN nya dalam mengarungi kehidupan spiritualnya.

Sebuah komitmen yang terbentuk dari lembah pengetahuan yang dalam; serta sumber-sumber ilmu yang jernih; dan sungai-sungai spiritual yang mengalir deras ke samudera ma’rifat; berharap untuk bisa bertemu dan dipeluk dalam rengkuhan kasih sayang Allah Sang Penguasa segala Pengetahuan, Dzat yang Maha Berilmu, Maha Bijaksana dan Maha Cinta... 

*******
Selamat berwuquf di Arafah, saudara-riku tercinta, semoga mendapat anugerah Haji Mabrur.

Dan selamat berpuasa Arafah, saudara-riku di tanah air, semoga Allah segera mengundang kita semua untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah yang suci....
😔❤💕

Selasa, 06 September 2016

Hadist pura2 menangis

*_TAFSIR ARRAZI SURAH MARYAM AYAT 58_*

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم

سورة مريم (١٩) : آية ٥٨

وَمِمَّنْ هَدَيْنا وَاجْتَبَيْنا إِذا تُتْلى عَلَيْهِمْ آياتُ الرَّحْمنِ خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيًّا

_Wamimman hadaina wajtabaina idza tutla alaihim ayaturrahmani kharru sujjada wabukiyya_

_Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur sujud dan menangis._

ثم بين أنهم ممن هدينا واجتبينا منبها بذلك على أنهم اختصوا بهذه المنازل لهداية الله تعالى لهم، ولأنه اختارهم للرسالة ثم قال: إذا تتلى عليهم آيات الرحمن خروا سجدا وبكيا

_Kemudian Allah menerangkan mereka adalah orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Bahwa mereka telah mendapat mendapat petunjuk khusus. Dengan petunjuk ini mereka dipilih sebagai pengemban risalah. Apa ciri mereka? Cirinya adalah Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur sujud dan menangis._

تتلى عليهم أي على هؤلاء الأنبياء فبين تعالى أنهم مع نعم الله عليهم قد بلغوا الحد الذي عند تلاوة آيات الله يخرون سجدا وبكيا خضوعا وخشوعا وحذرا وخوفا، والمراد بآيات الله ما خصهم الله تعالى به من الكتب المنزلة عليهم.

_Yang dimaksud dengan "Tutla alaihim" dibacakan ayat kepada mereka, mereka sampai kepada bertilawah ayat Allah, mereka merasakan sangat nikmat dan kemudian mereka menyungkur sujud dan menangis merasakan khuduk, khusyuk, waspada dan takut kepada Allah. Dan Allah mengkhususkan mereka karena Allah telah menurunkan kitab kepada mereka._

وقال أبو مسلم المراد بالآيات التي فيها ذكر العذاب المنزل بالكفار وهو بعيد لأن سائر الآيات التي فيها ذكر الجنة والنار إلى غير ذلك أولى أن يسجدوا عنده ويبكوا فيجب حمله على كل آية تتلى مما يتضمن الوعد والوعيد والترغيب والترهيب، لأن كل ذلك إذا فكر فيه المتفكر صح أن يسجد عنده وأن يبكي،

_Menurut Abu muslim yang dimaksud dari ayat2 diatas sangat jauh bagi orang kafir. Mestinya merekalah yang lebih pantas untuk bersujud kepada Allah. Karena setiap ayat yang mengandung kata surga dan neraka, janji dan peringatan, kabar gembira maupun ancaman dan lain sebagainya jika dikaji secara mendalam maka sangat benar jika seseorang untuk sujud kepada Allah dan menangis._

واختلفوا فقال بعضهم في السجود: إنه الصلاة وقال بعضهم: المراد سجود التلاوة على حسب ما تعبدنا به وقيل: المراد الخضوع والخشوع والظاهر يقتضي سجودا مخصوصا عند التلاوة ثم يحتمل أن يكون المراد سجود التلاوة للقرآن ويحتمل أنهم عند الخوف كانوا قد تعبدوا بالسجود فيفعلون ذلك لا لأجل ذكر السجود في الآية،

_Yang dimaksud sujud disini ada beberapa perbedaan, ada yang berpendapat makna sujud ini didalam sholat. Ada juga yg berpendapat ketika sujud tilawah. Dan ada juga yang berpendapat sujud itu diartikan tunduk dan khusyuk kemudian diaplikasikan kedalam sujud secara khusus dalam tilawah. Karena takut kepada Allahlah mereka bersujud kepada Allah, dan bukan karena sujud tilawah biasa yang ada didalam ayat itu._

قال الزجاج في بكيا: جمع باك مثل شاهد وشهود وقاعد وقعود ثم قال الإنسان في حال خروره لا يكون ساجدا فالمراد خروا مقدرين للسجود ومن قال في بكيا إنه مصدر فقد أخطأ لأن سجدا جمع ساجد وبكيا معطوف عليه

_Menurut Azzujaj mksud kata "Bukiya" (menangis) Adalah jamak dari "Bakin" seperti seseorang yang sedang "Musyahadah" saling ketemu pandang. Dan duduk didepan orang yang duduk. Dan kondisi seseorang yang menyungkur itu bukanlah sujud. Tetapi maksud menyungkur itu adalah mereka mampu bersujud. Siapa yg berkata bukiya itu masdar adalah suatu kesalahan, karena kata sujjada adalah jamak dari sajid  (orang yang bersujud) sedangkan bukia (menangis) adalah athaf pesamaannya._

_Sebagaimana sabda Rasulullah:_

وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم: «اتلوا القرآن وابكوا فإن لم تبكوا فتباكوا»

_Bacalah alquran dan menangislah jika engkau tidak bisa menangis pura2lah menagis._

وعن صالح المري قال: قرأت القرآن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال لي: يا صالح هذه القراءة فأين البكاء؟

_Dari Soleh Almurri: Aku pernah bermimpi membaca Alquran didalam tidurku. Kemudian Rosululullah SAW bersabda: Wahai sholeh mana tangis bacaanmu?_

وعن ابن عباس رضي الله عنهما إذا قرأتم سجدة سبحان فلا تعجلوا بالسجود حتى تبكوا فإن لم تبك عين أحدكم فليبك قلبه.

_Dari Ibnu Abbas ra. Jika engkau membaca Ayat sajalah jangan terburu2 sujud sampai engkau menagis. Jika matamu tidak bisa menangis maka menangislah lewat hatimu._

_Rosulullah SAW bersabda:_

وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم: «القرآن نزل فاقرأوه بحزن»

_Alquran itu telah diturunkan maka bacalah ia dengan kesedihan._

_Sabda Rosulullah SAW:_

وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما اغرورقت عين به بماء إلا حرم الله على النار جسدها»

_Tidaklah suatu mata yang menangis mengeluarkan air mata kecuali Allah akan mengharamkan bagi jasadnya api neraka._

وعن أبي هريرة رضي الله عنه: «لا يلج النار من بكى من خشية الله»

_Dari Abu Hurairah Rosulullah bersabda: tidak akan masuk neraka siapa yang menangis karena takut kepada Allah._

🙏🙏🙏

Hukum memejam mata

Bismillahirrohmanirrohim,

*_Hukum Memejamkan mata didalam Shalat_*:

Berdasarkan hadits-hadits berikut :

1. Imam Al-Bukhari rahimahullah Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

:رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ وَهُوَ يُصَلِّي بَيْنَ يَدَيْ النَّاسِ“

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat masjid sedang beliau dalam keadaan shalat di hadapan manusia.
(Shahih al-Bukhari 1/151 no.753)

2. Dan imam Al-Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

:قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ الْآنَ مُنْذُ صَلَّيْتُ لَكُمْ الصَّلَاةَ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ مُمَثَّلَتَيْنِ فِي قِبْلَةِ هَذَا الْجِدَار

“Sungguh aku telah melihat sekarang  seja kaku meng-imami kalian, surga dan neraka digambarkan di kiblat tembok ini..”
(Shahih al-Bukhari 1/150 no.749)

3. Hadits dari sahabat Ibnu Abbas RA, bahwa Rosulullah SAW bersabda :

,إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاةِ فَلا يَغْمِضْ عَيْنَيْهِ”

Apabila kalian melakukan shalat makan janganlah memejamkan kedua mata kalian.”(HR. at-Thabrani (w. 360 H)
dalam Mu’jam as-Shagir no. 24. dari jalur Mus’ab bin Said, dari Musa bin A’yun, dari Laits bin Abi Salim.

*Para ulama menegaskan, memejamkan mata ketika shalat hukumnya makruh*.

*_Kecuali_* ketika hal ini dibutuhkan, karena pemandangan di sekitarnya sangat mengganggu konsentrasi shalatnya.

Mengenai alasan dihukumi makruh, ada beberapa keterangan dari para ulama, diantaranya pendapat :

1. Ibnul Qoyim (w. 751 H) bahwa Memejamkan mata ketika shalat, bukan termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Beliau mengatakan :

ولم يكن من هديه صلى الله عليه و سلم تغميض عينيه في الصلاة”

Bukan termasuk sunah Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, memejamkan mata ketika shalat.” (Zadul Ma’ad, 1/283)b.

2. Imam Hambali, Memejamkan mata ketika shalat, termasuk kebiasaan *_shalat orang yahudi_*.

Dalam ar-Raudhul Murbi’ ;  kitab fikih madzhab hambali : pada penjelasan hal-hal yang makruh ketika shalat, dinyatakan,

ويكره أيضا تغميض عينيه لأنه فعل اليهود

”Makruh memejamkan mata ketika shalat, karena ini termasuk perbuatan orang yahudi.” (ar-Raudhul Murbi’, 1/95).

3. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah serta ulama-ulama Kufah mengatakan bahwa disukai bagi orang yang shalat untuk melihat ke arah tempat *_sujudnya karena itu lebih dekat kepada kekhusyu’an_*.

Sebagaimana _Al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullah mengatakan_ dalam Fathul Bari :

:وَقَالَ ابْنُ بَطَّالٍ : فِيهِ حُجَّةٌ لِمَالِكٍ فِي أَنَّ نَظَرَ الْمُصَلِّي يَكُونُ إِلَى جِهَةِ الْقِبْلَةِ ، وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْكُوفِيُّونَ : يُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَوْضِعِ سُجُودِهِ ؛ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ لِلْخُشُوعِ“

Ibnu Bathal rahimahullah mengatakan :
“Di dalam hadits (di atas) terdapat hujjah bagi imam Malik rahimahullah bahwa pandangan orang yang sedang shalat dihadapkan ke arah kiblat."Dan Imam Asy-Syafi’I rahimahullah serta ulama2 Kufah mengatakan bahwa disukai bagi orang yang shalat tmuntuk melihat ke arah tempat sujudnya karena itu lebih dekat kepada ke-khusyu’an.”
(Fath Al-Bari 2/271)

_Sebagian ulama membolehkan memejamkan mata ketika ada kebutuhan_.

Misalnya, dengan memejamkan mata, dia menjadi tidak terganggu dengan pemandangan di sekitarnya.

*Kesimpulan hukum berdasarkan Hadits diatas*

Ibnul Qoyim mengatakan,

والصواب أن يقال : إن كان تفتيح العينين لا يخل بالخشوع فهو أفضل ، وإن كان يحول بينه وبين الخشوع لما في قبلته من الزخرفة والتزويق أو غيره مما يشوش عليه قلبه ، فهنالك لا يكره التغميض قطعًا ، والقول باستحبابه في هذا الحال أقربُ إلى أصول الشرع ومقاصده من القول بالكراهة

Kesimpulan yang benar, jika membuka mata (ketika shalat) tidak mengganggu kekhusyuan, maka ini yang lebih *_afdhal_* Tetapi jika membuka mata bisa mengganggu kekhusyuan, karena di arah kiblat ada gambar ornamen hiasan, atau pemandangan lainnya yang mengganggu konsentrasi hatinya, maka dalam kondisi ini _tidak makruh memejamkan mata_.

*_Dan pendapat yang menyatakan dianjurkan memejamkan mata karena banyak gangguan sekitar, ini lebih mendekati prinsip ajaran syariat dari pada pendapat yang memakruhkannya_*.
(Zadul Ma’ad, 1/283).

_Walaupun memang kemudian terdapat perbedaan pendapat diantara ulama mengenai arah penglihatan Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam saat shalat, akan tetapi dalam hadits-hadits di atas menunjukkan satu hal yang sama yang disepakati, yaitu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan_ *_membuka kedua mata beliau sebab jika beliau menutup mata beliau, tentu beliau tidak akan dapat melihat dahak yang ada di tembok dan tidak pula dapat melihat gambaran surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau_*

Wallahu A'lam  😭🙏�🙏

Ydzikir

Ahmad Saifudin:
Ber islam tidak akan pernah bisa total manakala  yang diserahkan itu masih tersisa, dan yang tersisa itulah yang kemudian tak terasa menjadi "milik" kita.

Proses berislam tentu melalui pemahaman yang cukup akan sebuah konsep aqidah.

Aqidah atau pahaman yang diikuti umat umumnya ada 4: Rabithah dengan membayangjan wajah guru; Wahdatul Wujud-tidak ada kewujudan melainkan Allah; Nur Nuhammad-semua makhluk berasal dari Nur Muhammad ( seluruh dzatNya terbagi dua menjadi setengah Nur Muhamnad dan setengahnya lagi Nur Allah); dan konsep Dzatiyah-semua makhluk berasal dan terdhahir dari dzatNya yang sedikit ( sedikit=  bagai setes air di lautan) bukan setengah atau keseluruhan dzatNya.

Dari lakuan konsep konsep itu maka  keadaan fana, yaitu keadaan yang mesti dicapai atas totalitas  penyerahan diri akan berbeda beda.

Dan banyak yang melalaikan diri bahwa dzatNya tidaklah bisa digambarkan seperti apapun, dan oleh karenanya ada orang yang mengaku fana sekaligus mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, mengaku wusul dan mengaku menjadi rasul, mengaku fana tapi bertemu Nabi atau Wali. Mengaku wusul dengan bertemu guru mursyidnya.....

Keadaan keadaan itu ...sayang malah banyak menjadi tujuan keinginan dan harapan, bahkan banyak yang dengan susah payah wirid ribuan kali untuk mencapai tujuan itu.

Berbeda dengan yang lain, ketika saya dzikirullah hanya satu tujuan dan satu fokus yaitu ingat Allah yang tentu saya jaga agar ketika mengingat Allah itu saya tidak nelihat atau membayangkan apapun.

Demikian juga ketika shalat insaAllah saya kuatkan ingatan dan pandangan mata hati itu hanya kepada Allah meskipun dalam shalat itu saya berdiri rukuk sujud dan membaca doa bacaan shalat..

Kiranya hanya pahaman dzatiyah saja yang dapat membawa seseorang kepada dzikrullah yang benar (dzikir itu mengingat dan didalam mengingat mesti ada aktivitas melihat atau membayangkan).

Dan hanya dzikir yang bermakna mengingat dan melihat itulah perintah untuk terus menerus dan setiap saat kapanpun dimanapun dalam keadaan apapun berdzikir dengan mudah dan enak dapat dilaksanakan.

Perlu saya sampaikan bahwa teman teman yang mengamalkan pahaman dzatiyah ini ibadahnya meningkat drastis, mereka senang sumringah bagaikan kupu kupu yang baru keluar dari kepompongnya meskipun mereka siangnya berpuasa namun tetap bekerja (setiap hari puasa kecuali 5 hari yang dilarang, ada yang puasa Dawud) sehari semalam shalat dengan khudyuk tidak kurang dari 60 rakaat, gemar dan betah membaca Al Quran, melantunkan shalawat Nabi dengan menangis tersedu sedu, dan hati mereka lembut lembut...sangat peka terutama terhadap kesedihan sesama dan suka sedekah dan menyenangkan orang lain.

Waktu mereka habis untuk dzikir shalat mengaji...meskipun sibuk bekerja keras di siang harinya. Mereka asyik Dzikirullah sampai berjam jam......

Alhamdulillah setidaknya ada yang saya pandang....orang orang yang sibuk mendekatkan dirinya kepada Allah...meskipun juga sibuk bekerja untuk keluarganya.