Selasa, 06 September 2016

Hadist pura2 menangis

*_TAFSIR ARRAZI SURAH MARYAM AYAT 58_*

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم

سورة مريم (١٩) : آية ٥٨

وَمِمَّنْ هَدَيْنا وَاجْتَبَيْنا إِذا تُتْلى عَلَيْهِمْ آياتُ الرَّحْمنِ خَرُّوا سُجَّداً وَبُكِيًّا

_Wamimman hadaina wajtabaina idza tutla alaihim ayaturrahmani kharru sujjada wabukiyya_

_Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur sujud dan menangis._

ثم بين أنهم ممن هدينا واجتبينا منبها بذلك على أنهم اختصوا بهذه المنازل لهداية الله تعالى لهم، ولأنه اختارهم للرسالة ثم قال: إذا تتلى عليهم آيات الرحمن خروا سجدا وبكيا

_Kemudian Allah menerangkan mereka adalah orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Bahwa mereka telah mendapat mendapat petunjuk khusus. Dengan petunjuk ini mereka dipilih sebagai pengemban risalah. Apa ciri mereka? Cirinya adalah Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur sujud dan menangis._

تتلى عليهم أي على هؤلاء الأنبياء فبين تعالى أنهم مع نعم الله عليهم قد بلغوا الحد الذي عند تلاوة آيات الله يخرون سجدا وبكيا خضوعا وخشوعا وحذرا وخوفا، والمراد بآيات الله ما خصهم الله تعالى به من الكتب المنزلة عليهم.

_Yang dimaksud dengan "Tutla alaihim" dibacakan ayat kepada mereka, mereka sampai kepada bertilawah ayat Allah, mereka merasakan sangat nikmat dan kemudian mereka menyungkur sujud dan menangis merasakan khuduk, khusyuk, waspada dan takut kepada Allah. Dan Allah mengkhususkan mereka karena Allah telah menurunkan kitab kepada mereka._

وقال أبو مسلم المراد بالآيات التي فيها ذكر العذاب المنزل بالكفار وهو بعيد لأن سائر الآيات التي فيها ذكر الجنة والنار إلى غير ذلك أولى أن يسجدوا عنده ويبكوا فيجب حمله على كل آية تتلى مما يتضمن الوعد والوعيد والترغيب والترهيب، لأن كل ذلك إذا فكر فيه المتفكر صح أن يسجد عنده وأن يبكي،

_Menurut Abu muslim yang dimaksud dari ayat2 diatas sangat jauh bagi orang kafir. Mestinya merekalah yang lebih pantas untuk bersujud kepada Allah. Karena setiap ayat yang mengandung kata surga dan neraka, janji dan peringatan, kabar gembira maupun ancaman dan lain sebagainya jika dikaji secara mendalam maka sangat benar jika seseorang untuk sujud kepada Allah dan menangis._

واختلفوا فقال بعضهم في السجود: إنه الصلاة وقال بعضهم: المراد سجود التلاوة على حسب ما تعبدنا به وقيل: المراد الخضوع والخشوع والظاهر يقتضي سجودا مخصوصا عند التلاوة ثم يحتمل أن يكون المراد سجود التلاوة للقرآن ويحتمل أنهم عند الخوف كانوا قد تعبدوا بالسجود فيفعلون ذلك لا لأجل ذكر السجود في الآية،

_Yang dimaksud sujud disini ada beberapa perbedaan, ada yang berpendapat makna sujud ini didalam sholat. Ada juga yg berpendapat ketika sujud tilawah. Dan ada juga yang berpendapat sujud itu diartikan tunduk dan khusyuk kemudian diaplikasikan kedalam sujud secara khusus dalam tilawah. Karena takut kepada Allahlah mereka bersujud kepada Allah, dan bukan karena sujud tilawah biasa yang ada didalam ayat itu._

قال الزجاج في بكيا: جمع باك مثل شاهد وشهود وقاعد وقعود ثم قال الإنسان في حال خروره لا يكون ساجدا فالمراد خروا مقدرين للسجود ومن قال في بكيا إنه مصدر فقد أخطأ لأن سجدا جمع ساجد وبكيا معطوف عليه

_Menurut Azzujaj mksud kata "Bukiya" (menangis) Adalah jamak dari "Bakin" seperti seseorang yang sedang "Musyahadah" saling ketemu pandang. Dan duduk didepan orang yang duduk. Dan kondisi seseorang yang menyungkur itu bukanlah sujud. Tetapi maksud menyungkur itu adalah mereka mampu bersujud. Siapa yg berkata bukiya itu masdar adalah suatu kesalahan, karena kata sujjada adalah jamak dari sajid  (orang yang bersujud) sedangkan bukia (menangis) adalah athaf pesamaannya._

_Sebagaimana sabda Rasulullah:_

وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم: «اتلوا القرآن وابكوا فإن لم تبكوا فتباكوا»

_Bacalah alquran dan menangislah jika engkau tidak bisa menangis pura2lah menagis._

وعن صالح المري قال: قرأت القرآن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال لي: يا صالح هذه القراءة فأين البكاء؟

_Dari Soleh Almurri: Aku pernah bermimpi membaca Alquran didalam tidurku. Kemudian Rosululullah SAW bersabda: Wahai sholeh mana tangis bacaanmu?_

وعن ابن عباس رضي الله عنهما إذا قرأتم سجدة سبحان فلا تعجلوا بالسجود حتى تبكوا فإن لم تبك عين أحدكم فليبك قلبه.

_Dari Ibnu Abbas ra. Jika engkau membaca Ayat sajalah jangan terburu2 sujud sampai engkau menagis. Jika matamu tidak bisa menangis maka menangislah lewat hatimu._

_Rosulullah SAW bersabda:_

وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم: «القرآن نزل فاقرأوه بحزن»

_Alquran itu telah diturunkan maka bacalah ia dengan kesedihan._

_Sabda Rosulullah SAW:_

وعن رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما اغرورقت عين به بماء إلا حرم الله على النار جسدها»

_Tidaklah suatu mata yang menangis mengeluarkan air mata kecuali Allah akan mengharamkan bagi jasadnya api neraka._

وعن أبي هريرة رضي الله عنه: «لا يلج النار من بكى من خشية الله»

_Dari Abu Hurairah Rosulullah bersabda: tidak akan masuk neraka siapa yang menangis karena takut kepada Allah._

🙏🙏🙏

Hukum memejam mata

Bismillahirrohmanirrohim,

*_Hukum Memejamkan mata didalam Shalat_*:

Berdasarkan hadits-hadits berikut :

1. Imam Al-Bukhari rahimahullah Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :

:رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ وَهُوَ يُصَلِّي بَيْنَ يَدَيْ النَّاسِ“

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat masjid sedang beliau dalam keadaan shalat di hadapan manusia.
(Shahih al-Bukhari 1/151 no.753)

2. Dan imam Al-Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

:قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ الْآنَ مُنْذُ صَلَّيْتُ لَكُمْ الصَّلَاةَ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ مُمَثَّلَتَيْنِ فِي قِبْلَةِ هَذَا الْجِدَار

“Sungguh aku telah melihat sekarang  seja kaku meng-imami kalian, surga dan neraka digambarkan di kiblat tembok ini..”
(Shahih al-Bukhari 1/150 no.749)

3. Hadits dari sahabat Ibnu Abbas RA, bahwa Rosulullah SAW bersabda :

,إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاةِ فَلا يَغْمِضْ عَيْنَيْهِ”

Apabila kalian melakukan shalat makan janganlah memejamkan kedua mata kalian.”(HR. at-Thabrani (w. 360 H)
dalam Mu’jam as-Shagir no. 24. dari jalur Mus’ab bin Said, dari Musa bin A’yun, dari Laits bin Abi Salim.

*Para ulama menegaskan, memejamkan mata ketika shalat hukumnya makruh*.

*_Kecuali_* ketika hal ini dibutuhkan, karena pemandangan di sekitarnya sangat mengganggu konsentrasi shalatnya.

Mengenai alasan dihukumi makruh, ada beberapa keterangan dari para ulama, diantaranya pendapat :

1. Ibnul Qoyim (w. 751 H) bahwa Memejamkan mata ketika shalat, bukan termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Beliau mengatakan :

ولم يكن من هديه صلى الله عليه و سلم تغميض عينيه في الصلاة”

Bukan termasuk sunah Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, memejamkan mata ketika shalat.” (Zadul Ma’ad, 1/283)b.

2. Imam Hambali, Memejamkan mata ketika shalat, termasuk kebiasaan *_shalat orang yahudi_*.

Dalam ar-Raudhul Murbi’ ;  kitab fikih madzhab hambali : pada penjelasan hal-hal yang makruh ketika shalat, dinyatakan,

ويكره أيضا تغميض عينيه لأنه فعل اليهود

”Makruh memejamkan mata ketika shalat, karena ini termasuk perbuatan orang yahudi.” (ar-Raudhul Murbi’, 1/95).

3. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah serta ulama-ulama Kufah mengatakan bahwa disukai bagi orang yang shalat untuk melihat ke arah tempat *_sujudnya karena itu lebih dekat kepada kekhusyu’an_*.

Sebagaimana _Al-Hafizh ibnu Hajar rahimahullah mengatakan_ dalam Fathul Bari :

:وَقَالَ ابْنُ بَطَّالٍ : فِيهِ حُجَّةٌ لِمَالِكٍ فِي أَنَّ نَظَرَ الْمُصَلِّي يَكُونُ إِلَى جِهَةِ الْقِبْلَةِ ، وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْكُوفِيُّونَ : يُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى مَوْضِعِ سُجُودِهِ ؛ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ لِلْخُشُوعِ“

Ibnu Bathal rahimahullah mengatakan :
“Di dalam hadits (di atas) terdapat hujjah bagi imam Malik rahimahullah bahwa pandangan orang yang sedang shalat dihadapkan ke arah kiblat."Dan Imam Asy-Syafi’I rahimahullah serta ulama2 Kufah mengatakan bahwa disukai bagi orang yang shalat tmuntuk melihat ke arah tempat sujudnya karena itu lebih dekat kepada ke-khusyu’an.”
(Fath Al-Bari 2/271)

_Sebagian ulama membolehkan memejamkan mata ketika ada kebutuhan_.

Misalnya, dengan memejamkan mata, dia menjadi tidak terganggu dengan pemandangan di sekitarnya.

*Kesimpulan hukum berdasarkan Hadits diatas*

Ibnul Qoyim mengatakan,

والصواب أن يقال : إن كان تفتيح العينين لا يخل بالخشوع فهو أفضل ، وإن كان يحول بينه وبين الخشوع لما في قبلته من الزخرفة والتزويق أو غيره مما يشوش عليه قلبه ، فهنالك لا يكره التغميض قطعًا ، والقول باستحبابه في هذا الحال أقربُ إلى أصول الشرع ومقاصده من القول بالكراهة

Kesimpulan yang benar, jika membuka mata (ketika shalat) tidak mengganggu kekhusyuan, maka ini yang lebih *_afdhal_* Tetapi jika membuka mata bisa mengganggu kekhusyuan, karena di arah kiblat ada gambar ornamen hiasan, atau pemandangan lainnya yang mengganggu konsentrasi hatinya, maka dalam kondisi ini _tidak makruh memejamkan mata_.

*_Dan pendapat yang menyatakan dianjurkan memejamkan mata karena banyak gangguan sekitar, ini lebih mendekati prinsip ajaran syariat dari pada pendapat yang memakruhkannya_*.
(Zadul Ma’ad, 1/283).

_Walaupun memang kemudian terdapat perbedaan pendapat diantara ulama mengenai arah penglihatan Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam saat shalat, akan tetapi dalam hadits-hadits di atas menunjukkan satu hal yang sama yang disepakati, yaitu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat dengan_ *_membuka kedua mata beliau sebab jika beliau menutup mata beliau, tentu beliau tidak akan dapat melihat dahak yang ada di tembok dan tidak pula dapat melihat gambaran surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau_*

Wallahu A'lam  😭🙏�🙏

Ydzikir

Ahmad Saifudin:
Ber islam tidak akan pernah bisa total manakala  yang diserahkan itu masih tersisa, dan yang tersisa itulah yang kemudian tak terasa menjadi "milik" kita.

Proses berislam tentu melalui pemahaman yang cukup akan sebuah konsep aqidah.

Aqidah atau pahaman yang diikuti umat umumnya ada 4: Rabithah dengan membayangjan wajah guru; Wahdatul Wujud-tidak ada kewujudan melainkan Allah; Nur Nuhammad-semua makhluk berasal dari Nur Muhammad ( seluruh dzatNya terbagi dua menjadi setengah Nur Muhamnad dan setengahnya lagi Nur Allah); dan konsep Dzatiyah-semua makhluk berasal dan terdhahir dari dzatNya yang sedikit ( sedikit=  bagai setes air di lautan) bukan setengah atau keseluruhan dzatNya.

Dari lakuan konsep konsep itu maka  keadaan fana, yaitu keadaan yang mesti dicapai atas totalitas  penyerahan diri akan berbeda beda.

Dan banyak yang melalaikan diri bahwa dzatNya tidaklah bisa digambarkan seperti apapun, dan oleh karenanya ada orang yang mengaku fana sekaligus mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, mengaku wusul dan mengaku menjadi rasul, mengaku fana tapi bertemu Nabi atau Wali. Mengaku wusul dengan bertemu guru mursyidnya.....

Keadaan keadaan itu ...sayang malah banyak menjadi tujuan keinginan dan harapan, bahkan banyak yang dengan susah payah wirid ribuan kali untuk mencapai tujuan itu.

Berbeda dengan yang lain, ketika saya dzikirullah hanya satu tujuan dan satu fokus yaitu ingat Allah yang tentu saya jaga agar ketika mengingat Allah itu saya tidak nelihat atau membayangkan apapun.

Demikian juga ketika shalat insaAllah saya kuatkan ingatan dan pandangan mata hati itu hanya kepada Allah meskipun dalam shalat itu saya berdiri rukuk sujud dan membaca doa bacaan shalat..

Kiranya hanya pahaman dzatiyah saja yang dapat membawa seseorang kepada dzikrullah yang benar (dzikir itu mengingat dan didalam mengingat mesti ada aktivitas melihat atau membayangkan).

Dan hanya dzikir yang bermakna mengingat dan melihat itulah perintah untuk terus menerus dan setiap saat kapanpun dimanapun dalam keadaan apapun berdzikir dengan mudah dan enak dapat dilaksanakan.

Perlu saya sampaikan bahwa teman teman yang mengamalkan pahaman dzatiyah ini ibadahnya meningkat drastis, mereka senang sumringah bagaikan kupu kupu yang baru keluar dari kepompongnya meskipun mereka siangnya berpuasa namun tetap bekerja (setiap hari puasa kecuali 5 hari yang dilarang, ada yang puasa Dawud) sehari semalam shalat dengan khudyuk tidak kurang dari 60 rakaat, gemar dan betah membaca Al Quran, melantunkan shalawat Nabi dengan menangis tersedu sedu, dan hati mereka lembut lembut...sangat peka terutama terhadap kesedihan sesama dan suka sedekah dan menyenangkan orang lain.

Waktu mereka habis untuk dzikir shalat mengaji...meskipun sibuk bekerja keras di siang harinya. Mereka asyik Dzikirullah sampai berjam jam......

Alhamdulillah setidaknya ada yang saya pandang....orang orang yang sibuk mendekatkan dirinya kepada Allah...meskipun juga sibuk bekerja untuk keluarganya.

Minggu, 28 Agustus 2016

Qurban

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Qul inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Dalam tafsir albaghawi disebutkan kata ibadat disebut nusuk

Nusuk dalam bahasa arab artinya ibadah. Adapun arti wanusuki adalah ibadahku.

Adapun maksud dari wanusuki dari ayat diatas menurut syekh albaghawi adalah

أراد بالنسك الذبيحة، وقال مقاتل : نسكي : حجي ، وقيل : ديني

Yang dimaksud kata nusuk adalah mufrad, adapun jamaknya adalah manasik.

Dan maksud dari kata wanusuki adalah sembelihan qurbanku. Ada juga yang mengatakan makna nusuki adalah hajiku dan agamaku.

ABS
Penjelasan tentang kurban, qaruba, yaqrubu qurbanun, artinya mendekat. Oleh karena itu makna qurban adalah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Yang sampai kepada Allah bukan dagingnya akan tetapi ruhani kita.

Sejarah qurban terjadi ketika Nabi Ibrahim bersumpah, jika saya punya anak pasti akan saya qurbankan kepada Allah. perkataan ini disebabkan karena ia tidak memiliki anak. Nabi Ibrahim adalah orang yang paling banyak sedekah dan berkorban kambing untuk fakir miskin, saking gemar sedekah, sampai sampai keceplosan dalam hatinya, kalaupun saya punyak anak, pasti saya qurbankan. ketika Nabi ibrahim memiliki anak bernama ismail , Allah menagih Ucapannya yang dulu pernah bersumpah. Ibrahim akhirnya merelakan untuk dikurbankan, nabi ibrahim dengan berat hati  akhirnya melepaskan anaknya untuk dikurbankan atas perintah Allah, ia melepaskan anak satu satunya yg amat dicintainya untuk dikorbankan atas nama Allah sehingga ia mampu terlepas ikatan batinnya dengan anaknya,ketika hatinya lepas dari ikatan batin dengan anaknya yg dipersembahkan untuk Allah maka Allah menyelamatkan ismail dari penyembelihan, digantikan dengan kambing gibas, hikmah ini harus terjadi terhadap kita semua kita tidak boleh terikat hati kita kepada selain Allah, sehingga kita akan tersiksa akibat kecintaan kepada selain Allah swt, oleh karena itu kurban kita merupakan tanda kepatuhan kepada Allah yg Maha suci dan Allah akan memberikan rizki yg melimpah atas kurban yg kita serahkan,

(ust. Abu Sangkan)

Dzikir ke dzikir

Sedikit share pengajian pak abu ahad ini ,pak abu menjelaskan dzikir itu bukan hanya mengucapkan dzikir lisan saja kata pak abu kalau hanya dzikir bacaan itu masih ringan 1000 kalipun masih bisa kuat dilakukan tapi ada dzikir yg berat,yaitu sedekahmu, kurban sapi atau kambingmu, karena arti dzikir adalah ingat kepada Allah mengerjakan perintahnya adalah ingat kepada Allah,, seperti dzikir menurut ibnu Qoyyim kau melakukan dzikir dari dzikir yg satu ke dzikir yg lainnya, pak abu menjelaskan ibnu qoyyim ketika ada orang yg meninggal maka dia berhenti berzikir dan berpindah dari dzikir yang lainnya yaitu beliau bertakziah dan mengurus pemakamannya , itulah arti dzikir yaitu mengikuti perintahnya, ketika ada orang yg miskin dan terkena musibah maka dia berhenti berdzikir dan pergi menolong, haram hukumnya dia tetap duduk berdzikir sedangkan ada orang yg sedang membutuhkan pertolongannya, haram hukumnya dia duduk berdzikir sedangkan dia memiliki uang tapi dia tidak mau berkurban,

Doa untuk orang haji

⭐🕌⭐

Shbt..bulan2 ini adalah byk skl undangan tasyakuran haji.

Inilah sunah nabi kpd para tamu utk mendoakan para calon jamaah haji ato umroh.

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ  وَيَسَّرَ

لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

“Zawwadakallahut taqwa wa ghofaro dzanbaka wa yassaro lakal khoiro haytsuma kunta"

Artinya:

Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan memudahkanmu di mana saja engkau berada.”

Silahkan .... 🙂

Senin, 22 Agustus 2016

YMaha Meliputi

Allah Maha meliputi segala sesuatu.
Istilah meliputi sering kita artikan berada diluar yang diliputi, seperti dibungkus, dan karena pengertian sederhana seperti dibungkus inilah yang kiranya membuat kita lupa atau sering melupakannya sehingga kita merasa sendiriandan  terlepas dari jangkauan "peliput".

Ada suatau ontoh baik yang dapat "menyalahkan" pemahaman kita akan makna istilah "meliputi".

Jika kita perhatikan dengan seksama "Es-Batu" yang keras bahkan bisa dibentuk berbagai rupa, maka kita akan segera sadar dan paham bahwa yang berbentuk itu adalah sesungguhnya "AIR" saja dan tidak ada unsur lain kecuali air. Dan dengan mudah kita memahaminya bahwa Dhahir-batin Es-batu itu adalah AIR.

Kita masuk kedalam unsur terkecil dari Es-Batu itu ..ya..air juga...dan inilah makna "MELIPUTI". Tidak ada yang keliwatan dari peliputannya, sampai unsur terkecil sekalipun sesuatu adalah didalam peliputanNya juga, dan peliputannya atas semua unsur terkecil darii keseluruhan wujud Es-Batu, bukan hanya sebagian dari wujud Es-Batu itu.

Dan dari contoh itu pula kita mudah memahami "inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uuna".......awalnya dari air, menjadi Es-Batu, mempunyai berbagai bentuk, kemudian  kalau Es-Batu itu rusak dan meleleh Es-Batu itu kembali menjadi air, kembali ke asal."hua al awwalu wa alaakhiru"....Awal sebelum Es batu adalah air, dan akhir kewujudan es batu adalah air juga.

Dan dari contoh itu pula kita mudah memahami "Dia Maha Melihat" Maha mengawasi, Maha Tahu yang kita sembunyikan sekalipun, karena tidak ada unsur lain selain air saja didalam mewujudkan Es-Batu. Tidak ada unsur lain selain dzatNya saja didalam menciptakan keseluruhan makhluk.

Es-Batu adalah wujud pendhahiran sementara dari dzatNya, wujud sementara yang sewaktu waktu kembali  menjadi dzatNya.

yang perlu kita perhatikan agar tidak keliru bertauhid adalah bahwa dzatNya yang dhahir menjadi keseluruhan makhluk adalah bagaikan setetes air dzatNya di lautan dzatNya, hanya setetes air yang tidak mungkin akan menjadi lautan..

wahdatul wujud memahami akulah dzatNya akulah Allah.....ini betul tetapi salah karena merujuk kepada keseluruhan dzatNya, karena mana mungkin setetes air mengaku lautan. dzatNya yang sedikit tidak mungkin menjadi keseluruhan dzatNya.

Paham lain yang lebih "parah" kelirunya adalah paham Nur Muhammad, orang orang yang mengikuti paham ini memahami bahwa sebelum keluar perintah KUN Dzat Allah mesti Allah bagi menjadi dua bagian yang sama, kapan membaginya ya sebelum keluar perintah KUN, dzat itu separo  menjadi dan bernama Nurullah, dan separonya lagi menjadi dan bernama Nur Muhammad, dan Nur Muhammad inilah yang menadi keseluruhan makhluk. dan Separonya yang tidak menjadi makhluk menjadi Tuhan Allah.

Dengan pemahaman Nur Muhammad itu ayat ayat banyak menjadi sulit dipahami:

peliputan Allah tidak menjangkau unsur terkecil dari pendhahiran Nur Muhammad.

Rajiuun titik akhir kembali keseluruhan makhluk harusnya Nur Muhammad,

ya dengan paham Nur Muhammad ini kiranya....penganutnya nggak sadar telah secara halus menuhankan Muhamad saw,  perhatikan selawat ini : ya sayyidii yaa rasululllah ...qad khiilatii adriknii ya Rasulullah......mintanya kepada Rasulullah, selawat serupa juga ada. semoga saya salah

InsaAllah dengan tauhid yang benar akan menjauhkan kita dari kesulitan praktik senantiasa dzikir atas lakuan kita se hari hari, karena begitu dzikrullah...kita seketika akan sadar bahwa dhahir batihin dan semua sampai yang terkecil dari diri kita maupun yang ada disekitar kita yang bersama kita adalah semata mata dzatNya saja, kemanapun kita arahkan andangan kita yang terpandang adalah dzatNya saja.

Dengan kesadaran itu....lenyaplah rasa memiliki apapun, lenyaplah rasa heran, nggumun, takjub pada kehebatan kepintaran orang.....semua itu hanyalah pendhahiran dari dzatNya. nggak adaorang pinter, dukun hebat nan sakti, setengah wali, setengah gila, setengah ngulamak......nggak ada ...yang ada ...yang nampak adalah dzatNya..

Wallahu 'alam.