Selasa, 06 Oktober 2015

Pintu Depan-Belakang

BERTINDAK SESUAI PINTU

Penyakit typhus disebabkan oleh bakteri Salmonella. Gempa bumi disebabkan oleh tumbukan lempeng yang disetir oleh gerak magma. Minyak bumi berasal dari fosil. Apel jatuh ke bumi karena gravitasi. Dan semua jenis ilmu apa saja yang kita bisa sebutkan; baru saya mengerti; pastilah disingkap lewat “pintu depan”.

Siapa saja, yang masih terpandang pada adanya sebab-akibat; adanya sesuatu menyebabkan sesuatu yang lain, saya rasa sebenarnya masih memandang dari “pintu depan”.

Kalau paradigma Ustadz Hussien, “pintu belakang”, baik sebab maupun akibat adalah sama-sama hal yang “diadakan” oleh Allah, jadi tak mungkin sebab bisa menimbulkan akibat, dua-duanya sama-sama diadakan. Dan terlebih lagi dua-duanya tak pernah “ada”.

Paradigma beliau begitu tinggi. Tetapi yang paling menarik yang saya pandang, adalah pesan beliau bahwa “Siape yang masih terpandang (asik dengan pintu depan), jangan masuk pintu belakang dulu.”

Bagi saya pribadi, pesan ini mengingatkan kembali pada pesan Ibnu Athoillah bahwa siapa yang berada di maqom asbab (masih terpandang pada sebab-akibat) lalu ingin pindah ke maqom tajrid (yang sudah benar-benar tak terpandang apapun selain kuasa Allah segala-gala); sebenarnya adalah nafsu yang tersembunyi.

Sebaliknya, yang maqom “tajrid” (tak terpandang lagi sebab-akibat) kok malah ingin ke “asbab” berarti turun dari kedudukan yang tinggi.
Kok ya ternyata semakna dengan ucapan Syaikh Abdul Qadir Jailani: “Berpuashatilah dengan apa yang ada pada kamu, sampai Allah meninggikan taraf kamu”.

Barulah saya mengerti, rupanya bukan masalah kita berada pada level yang mana. Bukan masalah kita berada pada pintu yang mana. Tetapi, yang POKOK adalah kita harus mengerti, bagaimana “mengakrabi” Allah sesuai dengan posisi spiritualitas yang kita punya sekarang.

Saya kok ya jadi teringat bahwa ada dua cara yang saya amati sering diajarkan guru-guru mengenai jalan mendekatkan diri kepada Allah dalam beramal.

Cara pertama, adalah dengan selalu memandang jelek pada apa saja amal yang sudah kita lakukan. Sudah sholat, merasa bahwa sholat kita jelek, tidak khusyuk. Sudah sedekah, merasakan bahwa sedekah kita jelek, kok kaya ga ikhlas, kok ngasih duit yang lepek bukannya yang bagus. Dst…. Rupanya, ini adalah metoda pintu depan.

Ada satu cara lagi yaitu dengan menyadari bahwa kita sama sekali “tidak punya amal”, dalam artian amal itu adalah karunia Allah kepada kita. Hilang kewujudan. Alias orang pintu belakang.

Dulu saya merenung, mana mulianya? Pintu depankah pintu belakang? Asbabkah tajrid?

Sabtu, 26 September 2015

Hakekat Wudhu

WUDHU🚰🚰 ( Copas dari sebelah)

“Barang siapa yang berwudhu dan membaguskan wudhunya, maka akan keluarlah dosa-dosa dari badannya, sampai-sampai ia akan keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim dalam Kitab at-Thaharah)

Rasulullah menyuruh umatnya untuk menyempurnakan wudhu, ternyata memang banyak kesalahan berwudhu yang sering kita lakukan karena masih belum memahami makna dan fakta menakjubkan di balik menyempurnakan wudhu.

Prof. Dr. Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan sekaligus neurology berkebangsaan Austria, meneliti tentang keharusan wudhu sebelum melakukan sholat, ia menemukan sesuatu yang menakjubkan terhadap wudhu, sehingga menyampaikannya pada hidayah Islam.

Ia mengemukakan sebuah fakta yang sangat mengejutkan bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka dari tubuh manusia ternyata berada di sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar. Dari sini ia menemukan hikmah di balik wudhu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut.

Pada akhirnya Leopold memeluk agama Islam dan mengganti nama menjadi Baron Omar Rolf Ehrenfels.

Selain itu, ahli syaraf/neurologist pun telah membuktikan dengan air wudhu yang mendinginkan ujung-ujung syaraf jari-jari tangan dan jari-jari kaki berguna untuk memantapkan konsentrasi pikiran.
Perhatikanlah bahwa anggota tubuh yang wajib dan sunah dibasuh air wudhu merupakan bagian tubuh yang memiliki banyak titik-titik akupuntur. Setelah dihitung-hitung… ternyata terdapat 493 titik reseptor pada anggota wudhu !
Ratusan titik akupunktur tersebut bersifat reseptor terhadap stimulus berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan/urutan ketika melakukan wudhu.

Stimulus tersebut akan dihantarkan melalui meridian ke sel, jaringan, organ dan sistim organ yang bersifat terapi. Hal ini terjadi karena adanya sistem regulasi yaitu sistem syaraf dan hormon bekerja untuk mengadakan homeostasis (keseimbangan). Maasya Allah... Bayangkan jika kita melakukan hal tersebut setiap hari paling sedikit 5 kali sehari.

Berikut ini beberapa gerakan wudhu yang sering salah kita lakukan, begini cara menyempurnakannya:

1. Rangsangan di tangan & kaki
Coba ingat-ingat saat kita membasuh telapak kaki & tangan, apakah sela-sela jari tangan dan kaki sering kita abaikan?
Kita sering sekadar cuci tangan di bawah pancuran air tanpa menggosok-gosoknya,  padahal ada fakta menarik yang perlu diketahui:
Di antara sela-sela jari tangan dan kaki terdapat masing-masing satu titik istimewa (Ba Sie pada sela-sela jari tangan & Ba Peng pada sela-sela jari kaki). Jadi, keseluruhannya terdapat 16 titik akupunktur. Berdasarkan riset pakar akupunktur, titik-titik tersebut apabila dirangsang dapat menstimulasi bio energi (Chi) guna membangun homeostasis (keseimbangan). Sehingga menghasilkan efek terapi yang memiliki multi indikasi, seperti untuk mengobati migren, sakit gigi, tangan-lengan merah, bengkak dan jari jemari kaku. Subhanallah!

2. Membersihkan rongga hidung
Selanjutnya, hal yang sering diabaikan dalam wudhu adalah menghirup air ke dalam hidung. Kita sering kali hanya membasuh hidung, dan tidak menghirup air masuk ke rongga hidung kemudian mengeluarkannya kembali (istinsyaaq).
Penelitian dari Universitas Aleksandria membuktikan bahwa kebanyakan orang yang berwudhu secara kontinyu, maka hidung mereka bersih dan bebas dari debu, bakteri dan mikroba. Lubang hidung merupakan tempat yang rentan dihinggapi mikroba dan virus, tetapi dengan membasuh hidung secara kontinyu dan melakukan istinsyaaq (memasukkan air kedalam hidung kemudian mengeluarkannya ketika berwudhu), maka lubang hidung menjadi bersih dan terbebas dari radang dan bakteri.

3. Berkumur-kumur
Yang tak kalah penting adalah kumur-kumur dan bahkan Rasulullah menganjurkan setiap kali akan shalat. Penelitian modern membuktikan bahwa berkumur dapat menjaga mulut dan tenggorokan dari radang dan menjaga gusi dari luka. Berkumur juga dapat menjaga dan membersihkan gigi dengan menghilangkan sisa-sisa makanan yang terdapat di sela-sela gigi setelah makan.
Manfaat berkumur lainnya yg juga penting adalah menguatkan sebagian otot-otot wajah dan menjaga kesegarannya. Berkumur merupakan latihan penting yang diakui oleh pakar dalam bidang olahraga, karena berkumur jika dilakukan dengan menggerakkan otot-otot wajah dengan baik dapat menjadikan jiwa seseorang tenang.

4. Reseptor syaraf telinga
Lain lagi tentang telinga, kita sering kali hanya membasahi telinga, padahal di daun telinga ternyata terkandung banyak sekali titik reseptor syaraf telinga. Maka itu saat menyapu telinga jangan hanya membasuh saja, tapi harus dengan pijatan juga. Ini namanya aurikulopressure alias pijat akupunktur telinga.

Jelas bahwa menyempurnakan wudhu sungguh bermanfaat luar biasa untuk diri kita. Semoga Allah memudahkan kita untuk berwudhu ,

Rabu, 23 September 2015

Makna politik ied adha

Makna Politik Ibadah Haji
KH Hafidz Abdurrahman

06 Oct 2012  

Haji sebagai rukun Islam yang kelima merupakan bagian dari ibadah mahdhah. Sebagaimana ibadah mahdhah yang lain, Allah memang tidak pernah menjelaskan alasan disyariatkannya ibadah ini. Yang pasti banyak manfaat ibadah haji (QS al-Hajj [22]: 27-28). Ada yang bersifat individual dan komunal; ada yang berkaitan dengan hak-hak Allah dan makhluk. Di luar itu, ternyata haji memiliki makna politik.

Ibadah haji adalah ibadah jamaah yang dilaksanakan pada waktu yang sama di tempat yang sama. Dimulai dari persiapan ibadah haji (tarwiyyah) di Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah. Dilanjutkan dengan wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dimulai menjelang matahari tergelincir (zawâl) hingga terbenam (ghurûb). Dilanjutkan dengan mabit (menginap) di Muzdalifah pada malam harinya. Kemudian dilanjutkan dengan jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, tahallul shughrâ, menyembelih hadyu bisa di Mina atau di Makkah, dilanjutkan dengan thawaf Ifadhah dan sa’i di Masjid al-Haram. Lalu, kembali lagi ke Mina untuk mabit dan jumrah Ula, Wustha dan Aqabah pada tanggal 11 dan 12, bagi yang ingin meninggalkan Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah (Nafar Awwal), ataupun 11, 12 dan 13 bagi yang ingin meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah (Nafar Tsâni). Dengan berakhirnya rangkaian ini selesailah sudah ibadah haji seseorang.

Di tempat-tempat itulah, seluruh jamaah haji dari berbagai penjuru dunia berkumpul, bertemu dan berinteraksi. Mereka disatukan oleh akidah dan pandangan hidup yang sama. Di sana, mereka mempunyai tujuan yang sama. Pemandangan inilah yang disebut masyhad al-a’dham (pemandangan agung) yang dibanggakan oleh Allah dari penghuni bumi kepada para malaikat di langit. Nabi menyatakan, “Sesungguhnya Allah membanggakan Ahli Arafah (orang-orang yang berkumpul dan wukuf di Arafah) kepada penghuni langit.” (HR Ibn Hibban dari Abu Hurairah). Jika Allah saja membanggakan mereka di hadapan malaikat, maka umat Islam yang menyadari posisinya itu tidak akan merasa inferior, apalagi di hadapan orang-orang kafir, seperti Amerika, Inggris dan lain-lain.
Selain itu, mereka juga solid, terbukti bahwa mereka bisa melakukan manasik yang sama, pada waktu dan tempat yang sama, bukan digerakkan oleh kekuatan fisik pemimpin mereka, tetapi kekuatan akidah dan pemahaman agama mereka. Mereka bisa menyatu dan mengalir begitu kuatnya seperti air menuju tiap titik manasik, dan tidak ada siapapun kekuatan yang bisa membendung aliran mereka. Semuanya ini membuktikan bahwa umat ini adalah umat yang satu; umat yang kuat dan tidak bisa dikalahkan oleh siapapun, karena persatuan mereka.

Kekuatan yang luar biasa ini didukung oleh kekuatan mental dan spiritual mereka, sebagaimana yang ditanamkan ibadah. Sejak dari rumah mereka sudah pasrahkan semua harta, keluarga, jabatan dan apapun yang mereka tinggal kepada Allah, dan siap hidup-mati melaksanakan perintah-Nya dengan ketundukan dan kepatuhan mutlak. Dengan kata lain, mereka tidak lagi mempunyai penyakit Wahn atau Hubb ad-Dunya wa Karahiyyatu al-Maut (mencintai dunia dan takut mati). Di saat seperti itu, mereka akan siap melakukan apapun yang diminta oleh Allah dan memberikan segalanya. Meski diperintah untuk melaksanakan sesuatu yang tampak irasional, seperti mencium dan menyentuh Hajar Aswad, atau menyentuh Rukun Yamani, mencari batu dan melempar jumrah Aqabah; jumrah Ula, Wustha dan Aqabah. Jika saja kekuatan umat yang dahsyat ini ditransformasikan dalam kehidupan nyata pasca haji, maka umat ini akan menjadi umat terbaik, terkuat, superior dan adidaya tak terkalahkan.

Selain itu, masyhad a’dham ini juga membuktikan, bahwa umat Islam ini bisa bersatu dalam satu tujuan dan nusuk, sekalipun negeri, bangsa, warna kulit, mazhab, bahkan bahasa mereka berbeda. Namun, masyhad a’dham ini tidak akan tampak lagi, ketika mereka sudah kembali ke negeri asal mereka. Jika saja, realitas masyhad a’dham itu juga mereka transformasikan dalam kehidupan politik mereka, maka umat ini tidak akan lagi tersekat dengan nation state, yang selama ini menghalangi persatuan mereka. Sebaliknya, mereka hanya hidup dalam satu negara, di bawah satu bendera, La ilaha ill-Llah Muhammad Rasulullah, satu imam, satu sistem (syariah) dan satu tujuan. Itulah Khilafah.

Haji juga menampakkan fenomena lain. Sejak niat pertama melaksanakan ibadah, mereka harus mengenakan pakaian ihram yang putih dan tidak berjahit, mulai dari tarwiyah hingga tahallul shughra, tanggal 8-10 Dzulhijjah. Saat itu, semua orang sama. Tidak ada lagi budak, majikan, kepala negara, rakyat, kaya, miskin, kulit putih, hitam dan sebagainya. Semuanya dibalut dengan pakaian yang sama, putih-putih, tidak berjahit, dengan muka dan kepala terbuka, berpanas-panas, berdesak-desakkan dan melakukan nusuk yang sama.

Ini merupakan sya’air hajj (simbol haji) yang memanifestasikan sikap egalitarian yang sesungguhnya. Semuanya sama di hadapan Allah. Semuanya melakukan hal yang sama, dan semua diperlakukan dengan perlakukan sama, sebagai dhuyûf ar-Rahmân (tamu Allah). Bahkan Nabi pun menolak diperlakukan istimewa. Ketika ada seseorang menawarkan jasa kepada Nabi, untuk menyiapkan tempat mabit yang teduh di Mina, dengan tegas Nabi menolak, “Tidak, Mina adalah tempat bagi siapa saja yang lebih dahulu sampai.” (Hr. Ibn Khuzaimah dari ‘Aisyah).

Darah, harta dan tanah mereka, seluruh umat Islam di seluruh dunia, sama kedudukannya. Sama-sama dimuliakan. Maka, tidak boleh ditumpahkan dan dinodai oleh siapapun, sebagaimana kemuliaan dan kesucian tanah, bulan dan hari haram ini. Itulah proklamasi yang dikumandangkan oleh Nabi pada saat Haji Wada’, di padang Arafah (Hr. Bukhari-Muslim dari Ibn ‘Umar). Tidak hanya itu, baginda SAW pun menegaskan, bahwa satu nyawa orang Islam lebih mulia bagi Allah, ketimbang Ka’bah. Karena hancurnya Ka’bah lebih ringan bagi-Nya, ketimbang hilangnya satu nyawa orang Islam (as-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah, juz I/381). Padahal, siapa pun yang berdiri di hadapan Ka’bah, pasti akan merasa kecil. Tentu mereka akan lebih tidak sanggup lagi ketika menyaksikan darah dan nyawa orang Islam ditumpahkan.

Jika kesadaran itu ditransformasikan dalam kehidupan nyata, maka di hadapan sesama Muslim mereka merasa sama, sebaliknya mereka akan merasa superior di hadapan orang-orang kafir. Mereka tidak rela, jika tanah dan harta mereka dirampok oleh negara-negara kafir penjajah. Mereka juga tidak akan rela, saudara mereka dibantai atau ditangkap dan dipenjarakan atas pesanan negara-negara Kafir penjajah, sekalipun dilakukan dengan menggunakan tangan saudara mereka, sesama Muslim. Jika kesadaran itu ada, mereka pasti bangkit, dan merdeka. Semua kekuatan yang menghalangi kebangkitan mereka pun akan mereka libas, termasuk para penguasa antek penjajah.

Ketika dua tanah Haram, Makkah dan Madinah, dijadikan sebagai tempat pelaksanaan ibadah haji dan ziarah bagi jamaah haji, maka bagi mereka yang mempunyai modal pengetahuan sejarah tentang kedua tanah itu, pasti akan merasakan pengaruh yang luar biasa dalam diri mereka.  Betapa tidak, di sana mereka bisa menyaksikan langsung lembah Aqabah, tempat di mana Nabi dibaiat menjadi kepala Negara Islam pertama. Mereka juga bisa menyaksikan Hudaibiyyah, tempat di mana perjanjian Hudaibiyyah dilakukan, yang menjadi pintu masuk Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah). Ketika mereka menyusuri kawasan al-Judriyyah, sebelah atas Masjid al-Haram, mereka akan menemukan masjid ar-Râyah (masjid Bendera). Di situlah pada tahun 8 H, Nabi bersama 10.000 tentaranya berhenti di tempat itu, dan menancapkan Rayatu al-Uqab, bendera berwarna hitam dengan tulisan La ilaha Ill-Llah Muhammad Rasulullah, menandai jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum Muslim. Di tempat itu pula, Nabi melakukan shalat dua rakaat.

Ketika kita ziarah ke Madinah, di sana kita akan menemukan Masjid Nabawi yang menjadi pusat pemerintahan Nabi. Di sana, Nabi dan dua sahabat mulia baginda dimakamkan. Di masjid itu, selain ada Raudhah, surga Allah di bumi, juga ada tiang-tiang (usthuwanah) yang bersejarah: (1) Usthuwanah al-Hirs, tempat di mana dahulu ‘Ali bin Abi Thalib senantia menjaga Nabi; (2) Usthuwanah al-Wufûd, tempat di mana Nabi menerima para tamu, terutama delegasi dari berbagai kabilah dan negara; (3) Usthuwanah al-Taubah, tempat Abu Lubabah bertaubat, karena merasa sangat bersalah telah membantu Yahudi Bany Quraidzah yang telah berkhianat pada Rasulullah SAW.
Di luar Masjid Nabawi, lurus dengan Bâb as-Salâm, ada Sûqu an-Nabi (pasar Nabi),  Saqîfah Banî Sa’âdah, tempat di mana Abu Bakar dibaiat menjadi kepala Negara Islam kedua, menggantikan Nabi. Masih banyak yang lain.

Ketika kita menyaksikan tempat-tempat bersejarah itu, semangat dan kesadaran politik kita akan bangkit. Karena kita sadar, bahwa Nabi dan generasi terbaik umat ini dahulu mendirikan Negara Islam dimulai dengan perjuangan yang luar biasa. Sejak merintis di Makkah hingga berdirinya negara itu di Madinah, Nabi dan para sahabat berjuang siang-malam. Bahkan, ketika negara itu telah berdiri, manusia-manusia paling mulia di muka bumi itu justru tidak pernah beristirahat. Tidak kurang 50 perang besar dan kecil mereka arungi dalam kurun 10 tahun. Maka, wajar jika hanya dalam waktu 9 tahun, seluruh Jazirah Arab telah berhasil mereka taklukkan.

Semua memori kita itu akan melecutkan semangat dan kesadaran yang membuncah dalam diri kita. Dengan begitu, ketika kita berhaji tidak saja mendapatkan haji mabrur, tetapi juga menjadi pribadi yang berbeda. Di dalam dirinya telah tertanam semangat, kesadaran dan tekad yang kuat untuk mengembalikan kejayaan Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh baginda SAW dan para sahabat.

Itulah makna politik ibadah haji yang seharusnya kita petik. []

Selasa, 22 September 2015

Dzikir dalam ke luar

Saya melihatnya bahwa LATIHAN zikrullah dengan minda adalah supaya benar2 terbiasa bagi "yang di dalam" (minda/hati); untuk mengingat.

Maka sebagai sebuah tirakat untuk "memperbaiki",
Atau membetulkan, bahwa aktivitas mengingat itu sejatinya adalah dengan minda / hati / al aql, maka ustadz hussien punya pendekatan yang seolah "melarang" orang zikir lisan.

Dilarang-nya ini, dalam konteks seorang murid yang melakukan latihan.

Ketimbang LATIHAN Zikir beribu-ribu pake lisan (luar), mendingan zikir sering-sering dengan minda (dalam).

Orang Yang latihannya dengan Zikir banyak2 pakai lisan, menempuh metoda dari luar ke dalam. Yang luar (fisik) dibiasakan melantunkan zikir sampai refleks, harapannya nanti yang dalam akan lambat laun mengikuti.

Tetapi ustadz Hussien, sebagai seorang guru, punya approach beda. Untuk mempercepat, daripada berlama-lama di lisan, mending langsung berlama-lama di minda. Langsung ke "dalam".

Nantinya, setelah yang dalam bisa mengingati Allah, maka aktivitas luar akan menyesuaikan dengan yang dalam.

Yang dalam mengingat Allah, yang luar merefleksikan.

Yang luar bisa menangis, bisa tertawa, bisa gemetar. Atau bisa terlantunkan istighfar. Terlantunkan pujian. Terlantunkan penyucian. Sebagai imbas aktivitas yang di dalam.

Kata ulama dulu, amaliyah (bentuk luaran) disetir oleh ahwal (hal / daleman). Persis seperti approach ustadz Hussien.

Adapun syariat seperti biasa, lakukan saja seperti yang tertuntunkan oleh Rasulullah. Ada lafadz, ya baca saja.

Karena jangankan melafazkan, melakukan aktivitas apapun saja, konon, ingatan kepada Allah tak akan lepas, selama yang dalam sudah "manggon".

Demikian menurut saya. Hanya mencoba menulis pola yang saya amati.

Adapun diri saya sendiri, masih belum mampu untuk "yang dalam" ON 24 jam sehari.

:-D

Satu istri 4 rasa

🎯 SATU ISTRI EMPAT RASA

📝 (Catatan Kajian Spesial Muslimah, Ahad 20 September 2015)

Satu istri empat rasa. Tema yang sangat provokatif dan kontroversial. Mengundang komentar banyak orang, bahkan hujatan.

Padahal, kajian ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kampanye anti poligami, atau yang semacamnya. Kajian ini hanyalah sebuah upaya pencerahan, tentang peran seorang istri yang memiliki banyak rasa.

Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Ruum: 21)

Ayat di atas mengisyaratkan, setidaknya ada tiga rasa dalam kerumahtanggaan. Yakni rasa tenteram, rasa kasih, dan rasa sayang. Berdasarkan indikasi ayat ini, maka pasutri semestinya memiliki kemampuan mengolah rasa yang melingkupi rumah tangganya.

Terkait dengan masalah olah rasa ini, peran istri tentu tidak dapat diabaikan. Sebab celupan warna rasa dari para istri bisa jadi merupakan hal yang paling menentukan dalam laju sebuah rumah tangga.

Satu istri empat rasa. Artinya, seorang istri harus mampu setidaknya mengelola empat peran mendasar, demi terpenuhinya empat rasa yang dibutuhkan para suami.

Apa sajakah empat peran tersebut?

Pertama, istri sebagai pengantin atau kekasih suami
Menadi pengantin seumur hidup bagi suami itu sangat mungkin. Tipsnya sederhana, yakni menjaga kecantikan fisik dengan berhias dan merawat diri, serta memiliki inner beauty atau akhlak yang baik. Menjaga penampilan di hadapan suami dengan senantiasa berpakaian yang rapi dan menyenangkan.
Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, “Sebaik-baik wanita adalah mereka yang senantiasa menyenangkan apabila suaminya memandang, yang senantiasa taat saat suaminya memberi perintah, selalu menjaga harta dan dan kehormatan bila ditinggal suaminya.” (HR Abu Daud)

Kedua, istri sebagai “ibu” bagi suaminya
Terhadap anaknya, seorang ibu biasanya lemah lembut, rela berkorban apa saja, memberi tanpa pamrih, bersabar, mudah memaafkan, dan lain-lain. Maka, sebagai istri kita pun dituntut untuk bisa bersikap demikian. Menjaga dan merawat suami tanpa pamrih dan tanpa kenal lelah.

Ketiga, istri sebagai sahabat suami
Disamping harus menjadi kekasih dan ibu, seorang istri juga sebisa mungkin harus bisa menjadi sahabat bagi suaminya. Fungsi sahabat yaitu sebagai partner di segala bidang, men-support di segala kondisi, sebagai keeper (penjaga) rahasia suami, dan sebagai pendengar atau tempat berbagi keluh-kesah. Sebab, seperti halnya wanita, para laki-laki pun adakalanya merasa ‘down’, kecewa, dan sebagainya. Siapa lagi yang akan membangkitkan semangat suami kembali, jika bukan kita, istrinya?
Hal tersebut sudah dicontohkan oleh para istri Rasulullah. Ialah Khadijah, yang langsung menyelimuti dan memotivasi suaminya, saat beliau saw memperoleh wahyu pertama kali sehingga ketakutan. Adalah Ummu Salamah, yang cerdas memberikan ide kepada sang suami saat dihimpit kebimbangan. Pun tentang Aisyah, yang senantiasa membuat Rasulullah tersenyum dengan kepolosannya.

Istri sebagai pelayan suami
Siapa yang tidak ingin dilayani seumur hidup? Setiap orang pastinya, tak terkecuali suami. Suami membutuhkan kehadiran seorang pelayan, yang mampu mengurus segala keperluannya. Pelayan yang menyediakan masakan untuknya, dengan sentuhan kasih dan cinta. Pelayan yang siap memijit tubuhnya saat ia sedang kelelahan. Pelayan yang selalu berusaha menjaga agar suami dalam keadaan bersih dan rapi. Pelayan yang siap meladeni suami kapanpun dan di manapun, termasuk urusan ranjang yang hanya boleh didapatkan dari istrinya. Maka jadilah pelayan yang taat untuk suamimu, insyaallah dia pun akan menjadi majikan yang murah hati bagimu.

Mengapa istri harus menjalankan semua peran tersebut?

Ya karena memang suami adalah imam bagi istri, dan istri adalah makmum bagi suaminya. Secara kodrat, Allah sudah melebihkan para suami, yakni sebagai pemimpin bagi wanita/istrinya karena berbagai alasan. Maka ridho Allah ada pada ridho suami.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak selayaknya seseorang sujud kepada manusia. Seandainya dibolehkan seseorang bersujud kepada sesama manusia, pasti akan aku perintahkan para istri untuk bersujud kepada suaminya, disebabkan Allah telah melebihkan haknya atas istrinya.” (HR Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)

Satu istri empat rasa, sebuah cita-cita dan upaya terciptanya istri-istri ideal yang didamba para suami. Jika istri mampu menjadi kekasih dan pengantin bagi suami seumur hidup, maka suami merasa kaya akan cinta. Saat istri menghujani kasih sayang yang melimpah layaknya seorang ibu kepada anaknya, maka suami akan senantiasa merasa damai dan tenteram. Saat istri mampu menjadi sahabat yang baik bagi suaminya, maka suami akan mendapatkan kepercayaan diri yang tinggi sehingga mudah baginya meraih kesuksesan. Begitu pula saat istri mampu melayani suami, kapanpun dan di manapun, maka suami pasti akan merasa bahagia karena diperlakukan secara spesial.

“Dunia ini perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita (istri) shalihah.”

~●~●~●~●~●~●~●~●~●~●~

📈 Sekali lagi, ini bukanlah sosialisasi penolakan ta'adud (poligami). Berapapun jumlah istri, jika masing-masing mampu menjalankan minimal 4 peran besar di atas, maka insyaallah terciptanya keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah bukan sekadar angan-angan belaka.

🏠▪🏠▪🏠▪🏠▪🏠

Syahid wanita

🔪 HATI BAJA ➡ KISAH Nusaibah Binti Ka'ab - Sahabiyah Ansar Yang Berhati Baja 🔩💖👌⬅

Silahkan dibaca dengan perlahan untuk di ambil ibrohnya...

Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur.  Suaminya, Said sedang berehat di bilik tidur.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh.

Nusaibah meneka, itu pasti tentera musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik.

Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya. “Suamiku tersayang,” Nusaibah berkata, “aku mendengar suara pelik menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya.

Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang.

Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara.

Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya.

Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memerhatikan ibunya dengan pandangan cemas.

Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nusaibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya,

“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi khabar itu meninggalkan tempat itu, Nusaibah memanggil Amar.

Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih kerana tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”

Mata Amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu-ragu seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya.

Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan mereka menuju ke rumah Nusaibah.

Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangannya?” serunya gementar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil.
Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?”

Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”

Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya.

Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.

Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau wanita, ya Ibu….”

Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku kerana aku wanita? Apakah wanita tidak ingin juga masuk syurga melalui jihad?”

Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada.

Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja ubat-ubatan dan rawatlah tentera yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng bekas ubat-ubatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.

Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang perajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terpercik darah di rambutnya. Ia memandang. Kepala seorang tentera Islam tergolek terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.

Apalagi ketika dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi.

Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang perajurit yang tewas itu. Dinaiki kudanya.
Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.

Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.

Hingga pada suatu waktu seorang kafir menghendap dari belakang, dan menebas putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nusaibah teronggok sendirian.

Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada mangsa yang boleh ditolongnya.

Sahabat itu, begitu melihat sekujur tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya.
Dipercikannya air ke muka tubuh itu.

Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?”

Nusaibah samar-sama memerhatikan penolongnya.
Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah baginda?”

“Baginda tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?
Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih luka parah, Nusaibah….”

“Engkau mahu menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran.

Banyak musuh yg di jungkir-balikkan Namun, karena tangannya sudah kudung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus.

Gugurlah wanita itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.

Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”

Subhanallah.
Allahu akbar...
Allahu akbar...
Allahu akbar....

Tanpa pejuang sejati atau para Pahlawan Islam yg gugur dimedan perang seperti  mereka (para Sahabat dan Sahabiyah Rasululloh) mustahil agama Islam sampai kepada kita sekarang, dengan tenang dan damai. Kita semua berhutang besar kepada mereka semua.

Semoga Allah Azza Wa Jalla menempatkan mereka semua di Syurga,...Aamiin.

Minggu, 20 September 2015

Penyakit pikiran(hati)

WOW 90% PENYAKIT BERASAL DARI PIKIRAN !!!

Penyakit itu 90% berasal dari pikiran, 10%-nya dari pola makan. Gak Percaya?? Lihat Orang Gila, makan apa pun fisiknya sehat karena pikirannya selalu Happy.

Berikut korelasi daftar penyakit dengan pikiran negatif:

1) MARAH, selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuh kita mengalami depresi 6 jam.

2) DENDAM & MENYIMPAN KEPAHITAN akan menyebabkan imun tubuh kita mati.. Dari situlah bermula segala penyakit, seperti STRESS, KOLESTEROL, HIPERTENSI, SERANGAN JANTUNG, RHEMATIK, ARTHRITIS, STROKE (perdarahan / penyumbatan pembuluh darah).

3) Jika kita sering membiarkan diri kita STRESS, maka kita sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN.

4) Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit NYERI PUNGGUNG.

5) Jika kita MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit INSOMNIA (susah tidur).

6) Jika kita sering mengalami KEBINGUNGAN, maka kita akan terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH.

7) Jika kita sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yang BERLEBIHAN, maka kita akan mudah terkena penyakit GINJAL.

8) Jika kita suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).

9) Jika kita mudah EMOSI & cenderung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.

10) Jika kita sering merasa APATIS (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH.

11) Jika kita sering MENGANGGAP SEPELE semua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES.

12) Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (berkurangnya memori dan kontrol fungsi tubuh).

13) Jika kita sering BERSEDIH & merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit LEUKEMIA (kanker darah putih).

Sumber : Buku “The Healing & Discovering the Power of the Water” (by : Dr. Masaru Emoto).