Selasa, 22 September 2015

Dzikir dalam ke luar

Saya melihatnya bahwa LATIHAN zikrullah dengan minda adalah supaya benar2 terbiasa bagi "yang di dalam" (minda/hati); untuk mengingat.

Maka sebagai sebuah tirakat untuk "memperbaiki",
Atau membetulkan, bahwa aktivitas mengingat itu sejatinya adalah dengan minda / hati / al aql, maka ustadz hussien punya pendekatan yang seolah "melarang" orang zikir lisan.

Dilarang-nya ini, dalam konteks seorang murid yang melakukan latihan.

Ketimbang LATIHAN Zikir beribu-ribu pake lisan (luar), mendingan zikir sering-sering dengan minda (dalam).

Orang Yang latihannya dengan Zikir banyak2 pakai lisan, menempuh metoda dari luar ke dalam. Yang luar (fisik) dibiasakan melantunkan zikir sampai refleks, harapannya nanti yang dalam akan lambat laun mengikuti.

Tetapi ustadz Hussien, sebagai seorang guru, punya approach beda. Untuk mempercepat, daripada berlama-lama di lisan, mending langsung berlama-lama di minda. Langsung ke "dalam".

Nantinya, setelah yang dalam bisa mengingati Allah, maka aktivitas luar akan menyesuaikan dengan yang dalam.

Yang dalam mengingat Allah, yang luar merefleksikan.

Yang luar bisa menangis, bisa tertawa, bisa gemetar. Atau bisa terlantunkan istighfar. Terlantunkan pujian. Terlantunkan penyucian. Sebagai imbas aktivitas yang di dalam.

Kata ulama dulu, amaliyah (bentuk luaran) disetir oleh ahwal (hal / daleman). Persis seperti approach ustadz Hussien.

Adapun syariat seperti biasa, lakukan saja seperti yang tertuntunkan oleh Rasulullah. Ada lafadz, ya baca saja.

Karena jangankan melafazkan, melakukan aktivitas apapun saja, konon, ingatan kepada Allah tak akan lepas, selama yang dalam sudah "manggon".

Demikian menurut saya. Hanya mencoba menulis pola yang saya amati.

Adapun diri saya sendiri, masih belum mampu untuk "yang dalam" ON 24 jam sehari.

:-D

Satu istri 4 rasa

🎯 SATU ISTRI EMPAT RASA

📝 (Catatan Kajian Spesial Muslimah, Ahad 20 September 2015)

Satu istri empat rasa. Tema yang sangat provokatif dan kontroversial. Mengundang komentar banyak orang, bahkan hujatan.

Padahal, kajian ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kampanye anti poligami, atau yang semacamnya. Kajian ini hanyalah sebuah upaya pencerahan, tentang peran seorang istri yang memiliki banyak rasa.

Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Ruum: 21)

Ayat di atas mengisyaratkan, setidaknya ada tiga rasa dalam kerumahtanggaan. Yakni rasa tenteram, rasa kasih, dan rasa sayang. Berdasarkan indikasi ayat ini, maka pasutri semestinya memiliki kemampuan mengolah rasa yang melingkupi rumah tangganya.

Terkait dengan masalah olah rasa ini, peran istri tentu tidak dapat diabaikan. Sebab celupan warna rasa dari para istri bisa jadi merupakan hal yang paling menentukan dalam laju sebuah rumah tangga.

Satu istri empat rasa. Artinya, seorang istri harus mampu setidaknya mengelola empat peran mendasar, demi terpenuhinya empat rasa yang dibutuhkan para suami.

Apa sajakah empat peran tersebut?

Pertama, istri sebagai pengantin atau kekasih suami
Menadi pengantin seumur hidup bagi suami itu sangat mungkin. Tipsnya sederhana, yakni menjaga kecantikan fisik dengan berhias dan merawat diri, serta memiliki inner beauty atau akhlak yang baik. Menjaga penampilan di hadapan suami dengan senantiasa berpakaian yang rapi dan menyenangkan.
Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, “Sebaik-baik wanita adalah mereka yang senantiasa menyenangkan apabila suaminya memandang, yang senantiasa taat saat suaminya memberi perintah, selalu menjaga harta dan dan kehormatan bila ditinggal suaminya.” (HR Abu Daud)

Kedua, istri sebagai “ibu” bagi suaminya
Terhadap anaknya, seorang ibu biasanya lemah lembut, rela berkorban apa saja, memberi tanpa pamrih, bersabar, mudah memaafkan, dan lain-lain. Maka, sebagai istri kita pun dituntut untuk bisa bersikap demikian. Menjaga dan merawat suami tanpa pamrih dan tanpa kenal lelah.

Ketiga, istri sebagai sahabat suami
Disamping harus menjadi kekasih dan ibu, seorang istri juga sebisa mungkin harus bisa menjadi sahabat bagi suaminya. Fungsi sahabat yaitu sebagai partner di segala bidang, men-support di segala kondisi, sebagai keeper (penjaga) rahasia suami, dan sebagai pendengar atau tempat berbagi keluh-kesah. Sebab, seperti halnya wanita, para laki-laki pun adakalanya merasa ‘down’, kecewa, dan sebagainya. Siapa lagi yang akan membangkitkan semangat suami kembali, jika bukan kita, istrinya?
Hal tersebut sudah dicontohkan oleh para istri Rasulullah. Ialah Khadijah, yang langsung menyelimuti dan memotivasi suaminya, saat beliau saw memperoleh wahyu pertama kali sehingga ketakutan. Adalah Ummu Salamah, yang cerdas memberikan ide kepada sang suami saat dihimpit kebimbangan. Pun tentang Aisyah, yang senantiasa membuat Rasulullah tersenyum dengan kepolosannya.

Istri sebagai pelayan suami
Siapa yang tidak ingin dilayani seumur hidup? Setiap orang pastinya, tak terkecuali suami. Suami membutuhkan kehadiran seorang pelayan, yang mampu mengurus segala keperluannya. Pelayan yang menyediakan masakan untuknya, dengan sentuhan kasih dan cinta. Pelayan yang siap memijit tubuhnya saat ia sedang kelelahan. Pelayan yang selalu berusaha menjaga agar suami dalam keadaan bersih dan rapi. Pelayan yang siap meladeni suami kapanpun dan di manapun, termasuk urusan ranjang yang hanya boleh didapatkan dari istrinya. Maka jadilah pelayan yang taat untuk suamimu, insyaallah dia pun akan menjadi majikan yang murah hati bagimu.

Mengapa istri harus menjalankan semua peran tersebut?

Ya karena memang suami adalah imam bagi istri, dan istri adalah makmum bagi suaminya. Secara kodrat, Allah sudah melebihkan para suami, yakni sebagai pemimpin bagi wanita/istrinya karena berbagai alasan. Maka ridho Allah ada pada ridho suami.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak selayaknya seseorang sujud kepada manusia. Seandainya dibolehkan seseorang bersujud kepada sesama manusia, pasti akan aku perintahkan para istri untuk bersujud kepada suaminya, disebabkan Allah telah melebihkan haknya atas istrinya.” (HR Ibnu Hibban dari Abu Hurairah)

Satu istri empat rasa, sebuah cita-cita dan upaya terciptanya istri-istri ideal yang didamba para suami. Jika istri mampu menjadi kekasih dan pengantin bagi suami seumur hidup, maka suami merasa kaya akan cinta. Saat istri menghujani kasih sayang yang melimpah layaknya seorang ibu kepada anaknya, maka suami akan senantiasa merasa damai dan tenteram. Saat istri mampu menjadi sahabat yang baik bagi suaminya, maka suami akan mendapatkan kepercayaan diri yang tinggi sehingga mudah baginya meraih kesuksesan. Begitu pula saat istri mampu melayani suami, kapanpun dan di manapun, maka suami pasti akan merasa bahagia karena diperlakukan secara spesial.

“Dunia ini perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita (istri) shalihah.”

~●~●~●~●~●~●~●~●~●~●~

📈 Sekali lagi, ini bukanlah sosialisasi penolakan ta'adud (poligami). Berapapun jumlah istri, jika masing-masing mampu menjalankan minimal 4 peran besar di atas, maka insyaallah terciptanya keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah bukan sekadar angan-angan belaka.

🏠▪🏠▪🏠▪🏠▪🏠

Syahid wanita

🔪 HATI BAJA ➡ KISAH Nusaibah Binti Ka'ab - Sahabiyah Ansar Yang Berhati Baja 🔩💖👌⬅

Silahkan dibaca dengan perlahan untuk di ambil ibrohnya...

Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur.  Suaminya, Said sedang berehat di bilik tidur.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh.

Nusaibah meneka, itu pasti tentera musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik.

Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya. “Suamiku tersayang,” Nusaibah berkata, “aku mendengar suara pelik menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya.

Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang.

Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara.

Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya.

Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memerhatikan ibunya dengan pandangan cemas.

Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.
“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nusaibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya,

“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi khabar itu meninggalkan tempat itu, Nusaibah memanggil Amar.

Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih kerana tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”

Mata Amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu-ragu seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya.

Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan mereka menuju ke rumah Nusaibah.

Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangannya?” serunya gementar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil.
Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?”

Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”

Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya.

Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.

Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau wanita, ya Ibu….”

Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku kerana aku wanita? Apakah wanita tidak ingin juga masuk syurga melalui jihad?”

Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada.

Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja ubat-ubatan dan rawatlah tentera yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng bekas ubat-ubatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.

Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang perajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terpercik darah di rambutnya. Ia memandang. Kepala seorang tentera Islam tergolek terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.

Apalagi ketika dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi.

Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang perajurit yang tewas itu. Dinaiki kudanya.
Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.

Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.

Hingga pada suatu waktu seorang kafir menghendap dari belakang, dan menebas putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nusaibah teronggok sendirian.

Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada mangsa yang boleh ditolongnya.

Sahabat itu, begitu melihat sekujur tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya.
Dipercikannya air ke muka tubuh itu.

Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?”

Nusaibah samar-sama memerhatikan penolongnya.
Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah baginda?”

“Baginda tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?
Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih luka parah, Nusaibah….”

“Engkau mahu menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran.

Banyak musuh yg di jungkir-balikkan Namun, karena tangannya sudah kudung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus.

Gugurlah wanita itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.

Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”

Subhanallah.
Allahu akbar...
Allahu akbar...
Allahu akbar....

Tanpa pejuang sejati atau para Pahlawan Islam yg gugur dimedan perang seperti  mereka (para Sahabat dan Sahabiyah Rasululloh) mustahil agama Islam sampai kepada kita sekarang, dengan tenang dan damai. Kita semua berhutang besar kepada mereka semua.

Semoga Allah Azza Wa Jalla menempatkan mereka semua di Syurga,...Aamiin.

Minggu, 20 September 2015

Penyakit pikiran(hati)

WOW 90% PENYAKIT BERASAL DARI PIKIRAN !!!

Penyakit itu 90% berasal dari pikiran, 10%-nya dari pola makan. Gak Percaya?? Lihat Orang Gila, makan apa pun fisiknya sehat karena pikirannya selalu Happy.

Berikut korelasi daftar penyakit dengan pikiran negatif:

1) MARAH, selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuh kita mengalami depresi 6 jam.

2) DENDAM & MENYIMPAN KEPAHITAN akan menyebabkan imun tubuh kita mati.. Dari situlah bermula segala penyakit, seperti STRESS, KOLESTEROL, HIPERTENSI, SERANGAN JANTUNG, RHEMATIK, ARTHRITIS, STROKE (perdarahan / penyumbatan pembuluh darah).

3) Jika kita sering membiarkan diri kita STRESS, maka kita sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN.

4) Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit NYERI PUNGGUNG.

5) Jika kita MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit INSOMNIA (susah tidur).

6) Jika kita sering mengalami KEBINGUNGAN, maka kita akan terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH.

7) Jika kita sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yang BERLEBIHAN, maka kita akan mudah terkena penyakit GINJAL.

8) Jika kita suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).

9) Jika kita mudah EMOSI & cenderung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.

10) Jika kita sering merasa APATIS (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH.

11) Jika kita sering MENGANGGAP SEPELE semua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES.

12) Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (berkurangnya memori dan kontrol fungsi tubuh).

13) Jika kita sering BERSEDIH & merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit LEUKEMIA (kanker darah putih).

Sumber : Buku “The Healing & Discovering the Power of the Water” (by : Dr. Masaru Emoto).

Jumat, 18 September 2015

Pendidikan Allah

TARBIYAH ALLOH

من تربية الله لك (1)...
قد يبتليك الله بالأذى ممن حولك حتى لا يتعلق قلبك بأي أحد لا أم ولا أب لا أخ ولا صديق، فيتعلّق قلبك بهِ وحده
(1) Termasuk didikan Allah terhadapmu
Terkadang Allah mengujimu dengan gangguan dan sesuatu yang menyakitkan dari orang disekitarmu sampai hatimu tidaklah bergantung kepada siapapun, tidak kepada ibu, bapak, saudara, dan teman, akan tetapi hatimu bergantung kepada-Nya saja.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
من تربية الله لك (2) ...
قد يبتليك ليستخرج من قلبك عبودية الصبر والرضى وتمام الثقة به هل أنت راض عنه لأنه أعطاك؟ أم لأنك واثق أنه الحكيم الرحيم؟
(2) Termasuk didikan Allah terhadapmu
Terkadang Dia mengujimu dengan tujuan menampakkan dari hatimu ibadah kesabaran, ridho, dan percaya diri kepada-Nya, apakah kamu ridho kepada-Nya dikarenakan Dia telah memberikanmu ? Atau dikarenakan kamu percaya bahwa Dia adalah Dzat yang penuh dengan hikmah (didalam segala kehendak dan perbuatannya) lagi maha penyayang ?
💎💎💎💎💎💎💎💎💎.
من تربية الله لك (3)...
قد يمنع عنك رزقا تطلبه لأنه يعلم أن هذا الرزق سبب لفساد دينك أو دنياك، أو أن وقته لم يأت، وسيأتي في أروع وقت ممكن
(3) Termasuk didikan Allah terhadapmu
Terkadang Dia mencegah darimu rezeki yang kamu minta, sebab Dia mengetahui bahwa sesungguhnya rezeki ini adalah akan menjadi penyebab rusaknya agama atau duniamu, atau waktunya belum tiba dan akan tiba pada saat yang terbaik serta memungkinkan.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
من تربية الله لك (4) ...
قد ينغص عليك نعمة كنت متمتعاً فيها لأنه رأى أن قلبك أصبح "مهموما" بالدنيا فأراد أن يريك حقيقتها لتزهد فيها وتشتاق للجنة
(4) Termasuk didikan Allah terhadapmu
Terkadang Dia tidak memberikanmu kenikmatan dengan sempurna, yang kamu telah nikmati, sebab Dia melihat bahwa hatimu telah menyukai dunia, lalu Dia berkehendaki memperlihatkan padamu akan hakikatnya dunia agar kamu dapat berzuhud, memandang rendah pada dunia dan merindukan surga.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
من تربية الله لك (5)...
أنه يعلم في قلبك مرضاً أنت عاجز عن علاجه باختيارك.. فيبتليك بصعوبات...تخرجه رغماً عنك تتألم قليلاً...ثم تضحك بعد ذلك
(5) Termasuk didikan Allah terhadapmu
Sesungguhnya Dia mengetahui penyakit dihatimu yang kamu tidak mampu mengobatinya sesuai dengan kemauanmu, lalu Dia mengujimu dengan kesulitan-kesulitan yang semuanya itu akan mengusir penyakit tersebut walaupun kamu merasakan sedikit sakit dan pedih, namun kemudian kamu akan tertawa setelah itu.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
من تربية الله لك (6) ...
أن يؤخر عنك الإجابة حتى تستنفد كل الأسباب وتيأس من صلاح الحال ثم يُصلحه لك من حيث لا تحتسب حتى تعلم من هو المُنعم عليك
(6) Termasuk didikan Allah terhadapmu
(Terkadang) Dia menunda terkabulnya doamu sehingga kamu menghabiskan segala sebab dan usaha (untuk mewujudkan harapan dan cita-cita) dan kamu berputus asa dari keadaan yang baik, namun kemudian Dia memperbaiki keadaanmu dari sekiranya kamu tidak menyangkanya, sehingga kamu mengetahui bahwa Dia-lah yang menganugerahkan kenikmatan tersebut terhadapmu.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
من تربية الله لك(7)...
حين تقوم بالعبادة من أجل الدنيا يحرمك الدنيا حتى يعود الإخلاص إلى قلبك وتعتاد العبادة للرب الرحيم ثم يعطيك ولا يُعجزه
(7) Termasuk didikan Allah terhadapmu
(Terkadang) Ketika kamu sedang melaksanakan ibadah karena berniat mencari dunia lalu Dia menghalang-halangi kamu dari dunia sehingga niat Ikhlas dapat kembali lagi ke hatimu dan kamu dapat terbiasa beribadah karena Rabb yang maha penyayang, kemudian akhirnya Dia memberikanmu (dunia tersebut) dan tidak melemahkan keikhlasanmu.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
من تربية الله لك (8)...
أن يُطيل عليك البلاء ويُريك خلال هذا البلاء من اللطف والعناية وانشراح الصدر ما يملأ قلبك معرفة به حتى يفيض حبه في قلبك
(8) Termasuk didikan Allah terhadapmu
(Terkadang) Dia memperlama ujian dan cobaan pada dirimu dan Dia berhendak akan memperlihatkan padamu disela-sela cobaan ini kasih sayang, pertolongan, dan perasaan lapang dada yang memenuhi hatimu, yang kamu ketahui dengan baik, sehingga kecintaan tersebut memenuhi hatimu.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
من تربية الله لك(9)...
أن يراك غافلا عن تربيته وتُفسر الأحداث كأنها تحدث وحدها فيظل يُريك من عجائب أقداره وسرعة إجابته للدعاء حتى تستيقظ وتُبصر
(9) Termasuk didikan Allah terhadapmu
(Terkadang) Dia melihat dirimu lalai untuk mentarbiyah/mendidik hatimu dan menafsirkan semua kejadian-kejadian seakan-akan semuanya terjadi dengan sendirinya, lalu kemudian Dia memperlihatkan padamu sebagian dari keajaiban takdir-takdir-Nya dan pengabulan-Nya yang cepat terhadap doa, sehingga (ketika itu) kamu dapat bangun dan sadar dari kelalaian tersebut.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
من تربية الله لك(10) ...
أن يعجل لك عقوبته على ذنوبك حتى تُعجّل أنت التوبة فيغفر لك ويطهرك ولا يدع قلبك تتراكم عليه الذنوب حتى يغطيه الرّان فتعمى
(10) Termasuk didikan Allah terhadapmu
(Terkadang) Dia mempercepat turunnya hukuman-Nya terhadap dirimu atas dosa-dosamu sehingga kamu dapat segera bertobat, lalu Dia mengampunimu dan mensucikanmu dan tidak membiarkan dosa-dosamu terakumulasidan memenuhi hatimu sehingga hatimu tertutup dengan ARR00N/noda hitam yang menyebabkan hatimu jadi buta.

💎💎💎💎💎💎💎💎💎
من تربية الله لك (11)...
أنك إذا ألححت على شيء مصراً في طلبه متسخطاً على قدر الله يعطيك إياه حتى تذوق حقيقته فتبغضه وتعلم أن اختيار الله لك كان خيرا لك
(11) Termasuk didikan Allah terhadapmu
Sesungguhnya kamu ketika terus menerus memelas memohon sesuatu serta marah-marah terhadap qodar Allah (karena belum mengabulkan keinginanmu), maka Dia memberikan dan mengabulkannya untukmu sehingga kamu dapat merasakan hakikat (keburukan hasil)nya, lalu kamu membencinya dan kamu baru mengetahui (ketika itu) bahwa pilihan Allah untukmu lebih baik bagimu.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
من تربية الله لك (12) ...
أن تكون في بلاء ... فيُريك من هو أسوأ منك بكثير (في نفس البلاء) ... حتى تشعر بلطفه بك وتقول من قلبك: الحمد لله
(12) Termasuk didikan Allah terhadapmu
Suatu ketika kamu tertimpa cobaan, lalu Dia memperlihatkan kamu orang lain yang tertimpa cobaan yang sama denganmu, akan tetapi keadaannya jauh lebih buruk daripada kamu, sehingga kamu dapat merasakan belas kasih-Nya terhadap dirimu dan kamu mengatakan didalam hatimu: Alhamdulillah.
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
اهدوها لمن تحبون
Hadiahkan kalimat ini kepada yang anda cintai.

Senin, 14 September 2015

Nasehat Umar bin khottob

8 NASEHAT AMIRUL MUKMININ UMAR BIN KHATTAB RA. :
==========:

1. Barangsiapa meninggalkan ucapan yang tidak perlu, maka dia akan diberi hikmah.

2. Barangsiapa meninggalkan penglihatan yang tidak perlu, maka dia akan diberi kekhusyu’kan dalam hati.

3. Barangsiapa meninggalkan makan yang berlebihan, maka dia diberi kenikmatan beribadah.

4. Barangsiapa meninggalkan tertawa yang berlebihan, maka dia akan diberi kewibawaan.

5. Barangsiapa meninggalkan humor, maka dia akan diberi kehormatan.

6. Barangsiapa meninggalkan cinta duniawi, maka dia akan diberi kecintaan kepada akhirat.

7. Barangsiapa meninggalkan perhatiannya kepada aib orang lain, maka dia akan diberi kemampuan untuk memperbaiki aibnya sendiri.

8. Barangsiapa meninggalkan penelitian tentang bagaimana wujud Allah, maka dia akan terhindar dari nifaq”

Rasulullah SAW bersabda:
“Manisnya iman tidak akan merasuk ke dalam hati seseorang hingga dia mau meninggalkan sebahagian ucapan karena takut dusta, meskipun dia itu jujur; dan mau meninggalkan sebahagian sanggahan meskipun dia itu benar.” (HR Dailami)